Kabupaten Malang – Petani tomat sayur di Kabupaten Malang hanya bisa mengelus dada. Ditengah musim kemarau panjang saat ini, harga tomat yang diharapkan melambung justru kurang menguntungkan.

“Saat ini harganya cuma seribu sampai seribu lima ratus rupiah per kilonya,” ungkap Gimo (47), salah satu petani tomat sayur di Desa Tawangargo, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang, Rabu (4/9/2024) ditemui di lahan pertanian miliknya.

Gimo menjelaskan, saat ini masih ada panen kedua tanaman tomat sayur miliknya.

“Ini panen kedua, kemarin cuma dapat harga seribu lima ratus rupiah per kilogramnya. Ya kalau dihitung ongkos produksi kita rugi sampai 40 persen,” tegasnya.

Menurut Gimo, kemarau panjang juga berdampak pada komoditas tomat yang biasa digunakan sebagai bahan utama memasak di dapur. “Tomatnya jadi keriput begini, karena memang harus sering dapat air. Sore ini akan kita siram,” tuturnya.

Dengan harga jual yang ia terima seribu lima ratus rupiah perkilogram, kata Gimo, tidak sebanding dengan ongkos memanen dan juga biaya produksi menanam tomat sayur dari awal.

Sehingga, lanjut Gimo, ia pun hanya bisa ikhlas di tahun ini tak bisa maksimal memperoleh hasil dari bertani tomat sayur.

“Ya untuk sementara kita syukuri saja, tetap kita panen,” tutur Gimo tersenyum.

Harga tomat sayur murah di mata Gimo saat ini, bisa jadi karena memang banyak para petani yang juga menanam komoditas bahan baku sambel itu.

“Faktor murahnya itu mungkin banyak yang menanam tomat juga ya, sehingga di pasar banyak. Sementara kondisi tomat yang keriput, karena memang kekurangan air. Karena untuk mendapatkan air disini kan juga harus giliran mas,” tuturnya.

Gimo mengaku, harga tomat termahal juga pernah ia dapat pada bulan April 2024 lalu.

“Kalau harga tomat sayur termahal kemarin di bulan April ya. Perkilogramnya lima belas ribu rupiah. Sementara standar harga yang masih menguntungkan bagi petani di angka lima ribu rupiah perkilo,” ucapnya.

Gimo menambahkan, dengan harga tomat sayur saat ini di angka seribu lima ratus rupiah, petani pun merugikan hingga 40 persen dari seluruh ongkos produksi. Jika dirupiahkan, tutur Gimo, satu kali produksi dari awal petani bisa mengeluarkan uang lima juta rupiah.

Dengan harga seribu lima ratus rupiah perkilo saat ini, sambung Gimo, otomatis kerugian petani hampir separuh dari seluruh ongkos produksi menanam tomat sayur.

“Kalau dirupiahkan ya, kita keluar modal lima juta rupiah sementara cuma dapat hasil panen tiga juta. Tapi ya saya syukuri saja. Untuk menutupi kerugian itu, saya mengandalkan hasil panen dari tanaman letus atau selada. Kita coba dapat untung di selada buat menutupi kerugian panen tomat sayur,” pungkas Gimo. (*)

isra mi'raj nabi muhammad saw 1447H