Malang – Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kabupaten Malang menonton bareng film dokumenter pembantaian 12 Relawan Palang Merah Remaja Peniwen yang dilakukan tentara KNIL pada tahun 1949. Film dokumenter berjudul Ngeling-eling Peniwen karya Cinecronic Film menceritakan detik-detik tentara KNIL secara membabi buta menghabisi nyawa relawan Palang Merah Remaja.
Ketua IPNU Kabupaten Malang M. Syahrul Mubaraq mengatakan Pemutaran film Ngeling-eling Peniwen untuk merawat ingatan agar tidak kehilangan jati diri untuk merawat sejarah. “Saya tidak tahu latar sejarah monumen Peniwen Affair. Saya ingin lebih mendalaminya. Seperti ungkapan Bung Karno, jas merah. Jangan sekali-kali melupakan sejarah. Kami pelajar yang haus ilmu,” kata Syahrul, Minggu (1/9/2024).
Pemerhati sejarah, Tjahjana Indra Kusuma membedah film tersebut berdasar sejumlah dokumen dan pemberitaan surat kabar. Ia menelisik 350 rubrik dari sejumlah surat kabar. Majalah berbahasa Belanda De Vrije Pers, terbitan Surabaya yang pertama kali melaporkan tragedi Peniwen.
Laporan ditulis pendeta Hilderings dari gereja reformis, setelah membaca rubrik Pewartos Ringkes di buletin bulanan Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) terbit 23 Maret 1949. Digambarkan tragedi Peniwen dimulai sejak sore 17 Februari 1949, puluhan KNIL mendatangi sebuah klinik rawat jalan dan bersalin Panti Oesodo. Sejumlah perawat dan PMR merawat pasien di klinik tersebut.
Dalam cerita film tersebut, Tentara KNIL mengobrak-abrik klinik dan obat obatan dan pejuang. Mereka dipaksa keluar dari klinik, ditendang, dan dibentak. Dengan tangan teringat, satu per satu mereka ditembak di halaman klinik. KNIL kembali datang dan menyerang gereja yang berisi manula, anak-anak dan perempuan yang sedang menjalankan kebaktian. Mereka membunuh warga dan memerkosa tiga perempuan.
“Tragedi itu menampar pemerintah Belanda, melanggar konvensi Jenewa. Dilarang menyerang palang merah, klinik, dan tempat ibadah. Kejahatan perang,” kata Indra.
KNIL melakukan operasi di Peniwen lantaran Desa Peniwen menjadi basis pertahanan pejuang. Intelijen militer Belanda, kata Indra, menyebut Peniwen menjadi tempat persembunyian geng perusuh. “Sejumlah desa di kaki Gunung Kawi, termasuk Peniwen senantiasa memasok logistik untuk para pejuang,” ungkapnya.
Laporan tersebut kemudian menyebar, dikutip sejumlah surat kabar dan menjadi perbincangan di Eropa. Sinode gereja memprotes aksi kekerasan yang dilakukan militer Belanda kepada Dewan Gereja Dunia (World Church Council). Hingga diturunkan tim pencari fakta menelisik tragedi berdarah tersebut. “Berita itu viral, menjadi perhatian dunia,” kata Indra.
Sampai saat ini tragedi berdarah di Peniwen tersebut diabadikan dalam relief monumen palang merah di dunia yang dibangun 11 Agustus 1983.




















