Kota Batu, Tagarjatim.id – Tak semua guru honorer hanya menggantungkan hidup dari ruang kelas. Aryo Saputro Panji Riyanto memilih jalan lain, meracik masa depan lewat biji kopi. Guru honorer SMA Negeri 3 Malang ini menjadi bukti nyata bagaimana PROTEG Program Terapan Ekonomi Guru yang digagas Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur mampu mengubah perjuangan sunyi menjadi usaha yang berkelanjutan.

Bagi Aryo, menjadi guru adalah panggilan hati. Namun realitas sebagai guru honorer membuatnya harus berpikir lebih jauh tentang masa depan.

“Saya cinta mengajar. Tapi sebagai guru honorer, saya juga harus memikirkan bagaimana bisa bertahan dan mandiri secara ekonomi,” ujarnya.

Jauh sebelum mengikuti PROTEG, Aryo sudah lama bergelut dengan dunia usaha. Beragam bisnis sempat ia coba, namun langkahnya kerap tertahan. Bukan karena kurang niat, melainkan keterbatasan pemahaman manajemen usaha. Semua dijalani secara otodidak sambil tetap mengajar.

“Usaha itu jalan, tapi rasanya seperti tidak punya arah. Capek, tapi hasilnya tidak seberapa,” katanya.

Dari berbagai usaha yang pernah dicoba, Aryo merasa kopi adalah dunia yang paling dekat dengannya.

“Feeling saya memang ke kopi. Saya menikmati prosesnya, dari biji sampai seduhan. Tapi dulu jalannya pelan karena saya bukan dari latar belakang bisnis,” tuturnya.

Titik balik datang pada pertengahan 2024. Aryo terpilih sebagai peserta PROTEG, program yang dirancang khusus untuk mendorong kemandirian ekonomi guru honorer. Ia menjadi satu dari sekitar 700 guru honorer yang diusulkan Dinas Pendidikan kabupaten dan kota se Jawa Timur.

“Waktu itu saya berpikir, ini kesempatan yang tidak boleh dilewatkan,” ucapnya.

Dari jumlah tersebut, sekitar 500 orang lolos seleksi dan mengikuti pelatihan intensif hasil kolaborasi Dinas Pendidikan Jawa Timur dengan ITS Surabaya. Pelatihan dilakukan secara bertahap dengan pendekatan yang aplikatif dan mudah diterapkan di lapangan.

“Materinya sangat membumi. Tidak ribet, tapi langsung bisa dipraktikkan sesuai kondisi kami sebagai guru,” kata Aryo.

Peserta dibekali materi mulai dari Business Model Canvas, manajemen usaha, pengelolaan keuangan, hingga strategi membangun jejaring bisnis. Bagi Aryo, inilah fase penting yang mengubah cara pandangnya dalam mengelola usaha.

“Dari PROTEG saya belajar bikin sistem. Sekarang usaha bisa jalan lebih rapi dan mandiri, tidak harus selalu saya pegang langsung,” ujarnya.

Berbekal ilmu tersebut, Aryo mengembangkan usaha kopinya lebih serius. Kafe yang sebelumnya ia kelola perlahan bertransformasi menjadi supplier kopi bagi sejumlah kafe di wilayah Malang Raya. Ia juga membangun jaringan petani binaan dan mengelola kebun kopi sendiri demi menjaga kualitas dan kesinambungan pasokan.

“Saya ingin usaha ini tidak hanya untung, tapi juga sehat dan berkelanjutan. Petani ikut sejahtera, kualitas kopi terjaga,” katanya.

Saat ini, beberapa unit usaha kopi milik Aryo telah beroperasi di kawasan Pujon dan Malang. Sementara satu lokasi baru di kawasan atas Wisata Selecta masih dalam tahap renovasi setelah terdampak cuaca ekstrem.

“Namanya usaha pasti ada naik turunnya. Tapi sekarang saya lebih siap menghadapi tantangan karena punya bekal ilmu,” ujarnya.

Bagi Aryo, PROTEG bukan hanya soal peningkatan keterampilan wirausaha, tetapi juga membuka akses jejaring yang selama ini sulit dijangkau guru honorer.

“Bukan cuma ilmunya, tapi jejaringnya. Dari PROTEG saya ketemu banyak pihak, dari petani sampai supplier. Itu sangat membantu perkembangan usaha saya,” tuturnya.

Kisah Aryo menjadi potret nyata dampak PROTEG di lapangan. Program ini tak sekadar membantu guru honorer bertahan secara ekonomi, tetapi mendorong mereka tumbuh mandiri dengan usaha riil yang berkelanjutan tanpa meninggalkan dedikasi sebagai pendidik.

“Bagi saya, PROTEG memberi harapan. Bahwa guru honorer juga bisa punya masa depan yang lebih baik,” pungkasnya.(*)

isra mi'raj nabi muhammad saw 1447H