Kota Batu, Tagarjatim.id – Angka kejadian bencana di Kota Batu sepanjang tahun 2025 mengalami lonjakan signifikan. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Batu mencatat sedikitnya 209 peristiwa bencana, meningkat tajam dibandingkan tahun 2024 yang berada di angka 122 kejadian.
Warga pun diminta meningkatkan kewaspadaan, terlebih pada 2026 yang diprediksi masih diwarnai cuaca ekstrem.
Dari total 209 kejadian tersebut, tanah longsor masih menjadi bencana paling dominan. Sepanjang 2025 tercatat 127 kejadian longsor, melonjak lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya 56 kejadian.
Plt Kepala Pelaksana BPBD Kota Batu, Suwoko, menyebut kondisi geografis Kota Batu yang berada di kawasan dataran tinggi menjadi faktor utama tingginya potensi bencana, terutama longsor.
“Setelah longsor, bencana terbanyak berikutnya adalah cuaca ekstrem atau angin kencang sebanyak 46 kejadian, disusul banjir 25 kejadian, kebakaran bangunan 10 peristiwa, serta kebakaran hutan dan lahan satu kejadian,” ujar Suwoko, Sabtu (10/1/2026).
Secara wilayah, Kecamatan Bumiaji menjadi daerah dengan jumlah kejadian bencana tertinggi, yakni 99 kejadian. Disusul Kecamatan Batu sebanyak 78 kejadian, dan Kecamatan Junrejo 32 kejadian.
Menurut Suwoko, tingginya kejadian di Bumiaji tak lepas dari kontur wilayah yang didominasi perbukitan dengan kemiringan lereng curam serta struktur tanah yang mudah bergerak saat jenuh air.
“Sejak awal November, intensitas hujan meningkat tajam. Beberapa kejadian longsor sempat menutup akses warga. Di sejumlah titik juga muncul retakan tanah yang menjadi tanda awal potensi bencana,” jelasnya.
Dari rangkaian bencana tersebut, BPBD mencatat 1 orang mengalami luka, 281 warga terdampak, dan 24 orang terpaksa mengungsi. Meski demikian, Suwoko memastikan tidak ada korban jiwa selama 2025.
“Alhamdulillah, tidak ada korban meninggal dunia,” tegasnya.
Selain dampak kemanusiaan, bencana juga menyebabkan kerusakan fisik cukup signifikan. Tercatat 24 rumah rusak ringan, 16 rumah rusak sedang, dan 19 rumah rusak berat, serta 19 rumah terdampak banjir. Dampak sosial ekonomi juga terasa dengan satu hektare sawah terdampak, 0,175 hektare lahan rusak, dan sembilan kios ikut terdampak.
Pada sektor pelayanan publik, bencana menyebabkan lima fasilitas pendidikan rusak, serta gangguan pada prasarana vital, meliputi empat jaringan air bersih, 11 jaringan listrik dan PJU, lima jaringan telekomunikasi, 0,003 kilometer jalan rusak, serta satu jembatan mengalami kerusakan.
Menghadapi potensi bencana ke depan, BPBD Kota Batu terus mengintensifkan mitigasi berbasis masyarakat. Upaya tersebut meliputi pelatihan relawan, pemetaan wilayah rawan bencana, hingga pemasangan sistem peringatan dini di kawasan lereng.
“Kami minta warga tidak mengabaikan tanda-tanda alam. Jika muncul retakan tanah, pohon mulai miring, atau air keruh mengalir deras dari lereng, segera laporkan,” tegas Suwoko.
Sementara itu, Wali Kota Batu Nurochman menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam memperkuat kesiapsiagaan bencana, baik dari sisi struktural maupun nonstruktural.
“Penanganan bencana harus bergeser dari pola reaktif menjadi preventif. Kesiapsiagaan dan kolaborasi semua pihak adalah kunci,” ujar Cak Nur.
Meski berbagai upaya mitigasi terus dilakukan, Pemkot Batu tetap mengingatkan masyarakat, khususnya warga di kawasan rawan seperti Kecamatan Bumiaji, untuk meningkatkan kewaspadaan selama musim hujan masih berlangsung.
“Kita tidak bisa menghentikan bencana, tapi kita bisa meminimalkan dampaknya,” pungkasnya.(*)





















