Sidoarjo, Tagarjatim.id – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan potensi terjadinya angin puting beliung di wilayah Jawa Timur masih cukup tinggi hingga awal Februari. Potensi ini terjadi seiring daerah Jawa Timur yang masih berada dalam periode puncak musim hujan dan meningkatnya ancaman bencana hidrometeorologi basah.
Kepala BMKG Juanda, Taufiq Hermawan, mengungkapkan bahwa peristiwa puting beliung yang terjadi di sekitar Bandara Internasional Juanda terpantau memiliki kecepatan angin yang cukup kuat.
Menurutnya, berdasarkan hasil pemantauan, angin puting beliung tersebut tercatat bergerak dengan kecepatan mencapai 46 knot dan bergerak ke arah timur.
“Setelah terbentuk sebagai puting beliung dengan kecepatan 46 knot, pergerakannya mengarah ke timur menuju kawasan Bandara Juanda dan kemudian melemah di perairan Sedati, di sebelah timur area bandara,” ujar Taufiq, Kamis (08/01/2026).
BMKG menilai kondisi cuaca ekstrem seperti ini masih berpotensi berulang, mengingat dinamika atmosfer di Jawa Timur masih dipengaruhi oleh puncak musim penghujan.
“Hingga awal Februari, wilayah Jawa Timur masih berada pada puncak musim hujan. Karena itu, potensi bencana hidrometeorologi basah yang dapat memicu dampak kurang menguntungkan masih mungkin terjadi,” tegasnya.
Taufiq menambahkan, BMKG telah menyampaikan peringatan dini kepada masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai dampak cuaca ekstrem selama periode tersebut.
“Wilayah yang perlu mendapat perhatian khusus antara lain daerah pegunungan, kawasan lereng, serta daerah dengan kepadatan penduduk tinggi, karena berisiko terhadap bencana hidrometeorologi basah,” jelasnya.
Selain itu, BMKG juga menjelaskan bahwa angin puting beliung dapat terbentuk di area terbuka atau ruang lapang, terutama akibat proses penguapan yang berlangsung dalam waktu singkat.
“Puting beliung bisa muncul di ruang terbuka karena penguapan yang sangat cepat dan memicu pertumbuhan awan Cumulonimbus, khususnya di wilayah dengan minim ruang terbuka hijau,” pungkasnya.
BMKG mengimbau masyarakat untuk terus mengikuti informasi cuaca resmi, meningkatkan kesiapsiagaan, serta segera mengambil langkah antisipatif apabila terdeteksi adanya potensi cuaca ekstrem di wilayah masing-masing.(*)





















