Kota Batu, Tagarjatim.id – Wali Kota Batu Nurochman (Cak Nur) menegaskan bahwa banjir luapan yang kerap terjadi di wilayah Kecamatan Bumiaji bukan semata persoalan teknis drainase, melainkan dampak langsung dari alih fungsi lahan di kawasan hulu yang tidak terkendali.

Menurut Cak Nur, kejadian luapan air bercampur lumpur yang kembali terjadi usai hujan deras menjadi peringatan serius bahwa keseimbangan lingkungan di Kota Batu, khususnya daerah resapan, semakin tertekan.

“Sebanyak apa pun kanal atau sudetan yang dibangun, tidak akan mampu menampung jika air datang membawa lumpur, sampah, dan material kayu. Akar persoalannya ada di hulu, pada alih fungsi lahan yang harus kita kendalikan bersama,” tegas Cak Nur.

Ia menekankan bahwa pembangunan infrastruktur pengendali banjir tidak boleh berdiri sendiri tanpa dibarengi perubahan perilaku masyarakat, terutama pihak-pihak yang mengelola lahan dan kawasan hutan.

“Masyarakat pengelola hutan harus berpikir jangka panjang. Ada warga di wilayah bawah yang menanggung dampaknya. Kepatuhan terhadap aturan pemanfaatan kawasan hutan adalah kunci agar bencana ini tidak terus berulang,” lanjutnya.

Sebagai langkah berbasis data, Wali Kota menginstruksikan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) untuk segera melakukan pemetaan udara guna memetakan alur sungai, kanal eksisting, dan titik rawan luapan.

“Foto udara penting agar intervensi kebijakan tepat sasaran, apakah perlu sudetan baru, normalisasi, atau penguatan pengendalian di kawasan hulu,” ujarnya.

Sebagai gambaran dampak di lapangan, hujan berintensitas tinggi yang mengguyur Kota Batu pada Minggu sore (4/1/2026) memicu luapan di tiga titik wilayah Bumiaji. Data BPBD Kota Batu mencatat banjir terjadi di Desa Bulukerto, Desa Bumiaji, dan Desa Sumbergondo, menyebabkan rumah warga tergenang dan sejumlah ruas jalan tertutup lumpur.

Di Desa Bulukerto, luapan Sungai Ledok merendam lima rumah warga dengan ketinggian air mencapai 50 sentimeter, bahkan satu keluarga sempat mengungsi. Sementara di Jalan Banaran Bumiaji dan Jalan Raya Sumbergondo, endapan lumpur setebal 15 hingga 20 sentimeter sempat mengganggu arus lalu lintas.

Plt. Kepala Pelaksana BPBD Kota Batu, Suwoko, memastikan penanganan cepat dilakukan oleh petugas gabungan dan tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut.

Namun bagi Cak Nur, penanganan darurat saja tidak cukup. Ia menegaskan bahwa tanpa pengendalian alih fungsi lahan dan kesadaran kolektif menjaga sungai serta kawasan hulu, banjir luapan berpotensi terus menjadi ancaman tahunan bagi warga Kota Batu.

“Mitigasi di hilir harus berjalan seiring dengan perlindungan lingkungan di hulu. Kalau tidak, banjir hanya akan terus berulang,” pungkasnya. (*)

selamat tahun baru 2026