Sidoarjo, tagarjatim.id – Masyarakat Kelurahan Sidokare menyuarakan kekhawatiran akan tingginya akumulasi endapan pada saluran pembuangan air di bawah jalur kereta api. Menurut mereka, kondisi ini diduga sebagai penyebab utama genangan air yang melanda permukiman saat intensitas hujan tinggi. Timbunan sedimentasi tersebut dianggap telah menyumbat aliran air, memicu banjir.
Budi Siswanto, Ketua RW 08 Sidokare, memaparkan bahwa saluran berlebar hampir dua meter itu kini kedalaman efektifnya hanya tersisa sekitar 30 sentimeter akibat pendangkalan.
“Salurannya sudah penuh lagi, sehingga tadi malam genangan muncul meski sekarang sudah mulai berkurang. Beberapa titik masih tergenang,” ujarnya pada Senin (05/01/2026).
Ia mengungkapkan, sebelumnya kedalaman saluran bisa mencapai lebih dari satu meter.
“Karena endapan menumpuk, kapasitas tampung airnya menyusut. Semua aliran dari kawasan kampung dan perumahan bermuara ke sana. Jika saluran penuh, otomatis permukiman di sekitarnya terendam,” jelas Budi.
Saluran ini berfungsi sebagai jalur drainase primer di Sidokare, yang mengalirkan air dari area Liponsos hingga ke bagian timur. Setelah sekitar 50 meter dari rel kereta, saluran tersebut berbelok ke utara menuju Sungai Sidokare.
Budi menambahkan, sebagian besar wilayah permukiman di Sidokare tidak memiliki saluran pembuangan atau jalur alternatif langsung ke sungai, kecuali satu jalur yang dibangun sekitar tiga tahun terakhir.
Ketergantungan terhadap saluran di bawah rel ini membuat sistem pengairan sangat rentan.
“Saya sudah melaporkan keadaan ini ke nomor darurat 112 dan kelurahan, tetapi belum ada tanggapan atau langkah penanganan,” tandasnya.
Warga mendesak pemerintah daerah untuk segera turun tangan melakukan normalisasi.
“Jika tidak segera ditangani, setiap hujan deras banjir akan terulang. Akar masalah banjir di sini sebenarnya terletak pada saluran tersebut,” tegas Budi.
Menanggapi keluhan tersebut, Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Bina Marga, dan Sumber Daya Air (DPUBMSDA) Kabupaten Sidoarjo, Dwi Eko Saptono, menyatakan bahwa upaya normalisasi di lokasi yang dimaksud telah dilakukan pada tahun sebelumnya. Namun, jika sedimentasi kembali terjadi, pihaknya siap mengagendakan penanganan lebih lanjut.
“Insyaallah dalam waktu dekat ini akan kami usahakan untuk menjadwalkan normalisasi saluran tersebut,” pungkasnya. (*)





















