Kabupaten Malang, Tagarjatim.id – Seorang bocah berusia 6 tahun berinisial AMU warga Desa Losari, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur, dikabarkan meninggal usai tertemper Kereta Api Jayabaya relasi Malang – Pasarsenen, Sabtu (3/1/2026) siang. Korban tertemper kereta api saat bermain sepeda di pinggir rel.
Berdasarkan informasi yang dihimpun Tagarjatim.id, sebelum korban tertemper kereta api, korban saat itu bermain sepeda BMX sendirian di pinggir rel sekitar pukul 14.00 WIB. Saat korban asyik bermain sepeda BMXnya, dari arah Selatan ke Utara ada kereta api akan melintas.
Pada saat itu, dari kejauhan kereta api sudah berulangkali membunyikan klakson. Namun, bocah malang itu tetap bermain di pinggir rel, seolah-olah tidak mendengar bunyi klakson kereta api.
Korban yang masih berada diatas sepeda BMXnya akhirnya tertabrak kereta api, dan tergeletak dengan kondisi luka parah. Sepeda BMX korban pun peyok tertemper badan besi kereta.
Warga yang mengetahui kejadian itu, langsung memberikan pertolongan dan mengevakuasi korban ke Rumah Sakit Prima Husada. Setelah mendapatkan perawatan beberapa jam korban dinyatakan meninggal dunia pada Sabtu malam.
Manager Humas KAI Daop 8 Surabaya Mahendro Trang Bawono membenarkan kejadian itu. Insiden itu terjadi pukul 14.14 WIB.
“Kejadiannya Sabtu, sekitar pukul 14.14 WIB, KA Jayabaya relasi Malang – Pasarsenen mengalami insiden tertemper di KM 37 + 300, antara petak jalan Singosari – Lawang,” kata Mahendro, Sabtu malam.
Mahendro mengatakan KAI Daop 8 Surabaya menyampaikan belasungkawa dan keprihatinan mendalam atas kejadian ini.
“Keselamatan merupakan tanggung jawab bersama. Orang tua, masyarakat, dan seluruh pemangku kepentingan diharapkan dapat meningkatkan pengawasan dan kepedulian, khususnya terhadap anak-anak, agar tidak beraktivitas di sekitar jalur kereta api,” tuturnya.
Terkait tragedi ini, KAI Daop 8 Surabaya mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk menjadikan keselamatan sebagai prioritas utama.
“Kepedulian dan kewaspadaan bersama diharapkan dapat mencegah terulangnya kejadian serupa di masa mendatang,” tutup Mahendro. (*)





















