Kabupaten Malang, tagarjatim.id – Senyum merekah di wajah Priyanto (62), saat memandangi puluhan karung penuh berisi jagung di sawahnya yang ada di Dusun Srigading, Desa Randugading, Tajinan, Kabupaten Malang. Dengan sigap, pria berusia lebih dari setengah abad itu mengangkat satu persatu karung ke atas motor, untuk dibawa ke rumahnya.
Di tengah cuaca yang tidak bersahabat, sawah Priyanto masih bisa menghasilkan hingga 7 ton per hektar, dari total lahan seluas 2 hektar miliknya.
“Alhamdulillah ini masih bisa panen karena cuaca kan seperti ini, tidak mendukung. Ini saja panennya harus maju 2 minggu agar tidak rusak,” ungkap Priyanto kepada tagarjatim.id, Rabu (24/12/2025).
Dalam setahun, Priyanto 2 kali menanam jagung dan sekali menanam padi. Ia bersyukur, tanamannya tak pernah gagal panen.
“Tanam sayur juga mas setelah panen padi, sambil menunggu musim tanam jagung,” imbuhnya.
Bagusnya hasil panen milik Priyanto, tak lepas dari pemupukan yang dilakukan. Mudahnya akses mendapat pupuk, membuat tanaman jagung miliknya mendapat asupan nutrisi tepat waktu.
Priyanto mengungkapkan, saat ini dirinya membeli pupuk di kios pupuk subsidi milik Koperasi Desa Merah Putih Randugading, yang hanya berjarak 5 menit dari rumahnya dengan mengendarai motor. Sebelumnya, ia harus membeli pupuk di desa sebelah, yang memakan waktu 20 menit perjalanan. Terkadang, ia harus mencari pupuk hingga lintas kecamatan yang berjarak 15 kilometer, jika stok pupuk di tempat ia biasanya membeli sedang kosong.
“Sekarang dekat mas enak, terus pupuknya ada terus. Dulu belinya harus di desa sebelah. Di kios Kopdes sekarang juga harganya sesuai HET, Urea Rp90 ribu per sak, kalau Phonska Rp92 ribu,” jelas Priyanto.
Mudahnya akses membeli pupuk subsidi ini diamini sekretaris Kelompok Tani (Poktan) Sarigading 2, Sunarto. Sejak kios pupuk milik Kopdes Merah Putih Randugading buka pada bulan Agustus 2025 lalu, petani di dusunnya lebih mudah untuk mendapat pupuk subsidi.
“Sangat menunjang sekali, selain dari segi jarak, harganya pun lebih murah dibanding kios lainnya. Kalau dulu beli di harga Rp125 ribu per sak, sekarang kan hanya Rp90 ribu,” jelas Sunarto.
Dengan harga yang ada saat ini, petani mengaku bisa menghemat biaya 15 hingga 20 persen. Pasalnya, biaya pupuk merupakan biaya paling besar dalam penanaman tanaman.
Sunarto menceritakan, sistem pembelian pupuk saat ini juga semakin bagus. Dengan adanya Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK), petani tak lagi harus berebut pupuk. Pasalnya, masing-masing petani sudah mendapat kuota sesuai dengan luas lahan milik mereka.
“Kalau dengan RDKK bisa adil gitu lho mas. Adilnya itu kan biasanya kalau yang punya lahan luas dan punya uang bisa borong. Sekarang dengan adanya RDKK yang khusus tanaman pangan itu sangat membantu sekali jadi tepat sasaran gitu lho mas,” ujarnya.
Sunarto menambahkan, kuota pupuk subsidi yang diberikan untuk petani yakni 500 kilogram Urea dan 500 kilogram Phonska per hektar luas lahan. Menurutnya, jumlah tersebut dirasa masih belum mencukupi, lantaran kondisi tanah saat ini tidak sama dengan beberapa tahun lalu. Namun, para petani mengaku sudah sangat bersyukur dengan tata kelola yang ada saat ini.
“Kalau dibilang cukup ya belum mas, karena kan kondisi tanah sekarang tidak sesubur dulu karena kebanyakan herbisida,” tambah Sunarto.
Kelompok Tani Sarigading 2, memiliki anggota 35 orang, dengan luas lahan mencapai 60 hektar. Jenis tanaman, mayoritas tanaman pangan seperti padi, jagung dan tebu. Dari luas lahan tersebut, total produksi yang dihasilkan bisa mencapai 540 ton dalam sekali panen. Sebelumnya, dengan luas lahan yang sama produksi hanya mencapai 360 hingga 400 ton.

Sementara itu, Ketua Koperasi Desa Merah Putih Randugading, Kabupaten Malang, Crah Handayani mengatakan bahwa kios pupuk milik Kopdes beroperasi sejak 8 Agustus 2025. Kios ini melayani 4 Kelompok Tani (Poktan) yakni Sarigading 1 sampai 4, dengan total anggota 318 orang.
Dalam sebulan, kuota pupuk yang disediakan di kios ini 32 ton Urea dan 32 ton Phonska, dengan serapan mencapai 100 persen. Petani yang akan membeli, juga harus terdaftar dalam sistem RDKK. Saat membeli, petani juga harus membawa KTP dan fotokopi Kartu Keluarga.
“Yang beli itu dicek dulu di e-RDKK ada atau tidak. Karena kan sudah online jadi tinggal masukkan nama atau NIK nanti keluar. Kuota yang sudah diambil berapa dan sisanya berapa,” ungkapnya.
Crah Handayani mengaku, setiap akhir bulan dirinya harus membuat laporan penggunaan pupuk, untuk memastikan distribusi pupuk tepat sasaran.
Melalui Perpres No. 6 Tahun 2025, pemerintah berupaya untuk meningkatkan efektivitas program pupuk subsidi melalui penyederhanaan tata kelola distribusi. Untuk mendukung langkah ini, anggota holding Pupuk Indonesia menyiapkan stok pupuk subsidi sebanyak 441.581 ton, menjelang puncak musim tanam Oktober 2025 – Maret 2026.
Direktur Utama Petro Kimia Gresik, Daconi Khotob mengatakan bahwa pendistribusian pupuk harus sesuai dengan regulasi terbaru.
“Stok tersebut akan didistribusikan dengan tata kelola baru yang diatur dalam Perpres Nomor 6 Tahun 2025 dan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 15 Tahun 2025,” ujar Daconi dalam keterangan media, Sabtu (4/10/2025).
Pemerintah juga membatasi subsidi pupuk pada komoditias prioritas seperti padi, jagung, kedelai, cabai, bawang merah, bawang putih, kakao, kopi, tebu rakyat dan singkong. (*)





















