Tulungagung – Seorang penyuluh agama Kementerian Agama Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, membuat metode unik denga mendirikan “Majelis Taklim Sinau Agomo” bagi penyintas HIV/AIDS di Kabupaten Tulungagung. Program ini sebagai media mengajak para penyintas untuk lebih mengenal agama sekaligus memberikan dukungan psikologis bagi mereka.

Ni’matul Khoiriyah, Penyuluh Agama Kementerian Agama Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, Ni’matul Khoiriyah mengaku ia termotivasi memberikan dukungan psikologis bagi para penyintas HIV tersebut.

Majelis ini didirikan pada 2020. Kegiatan di majelis ini dipusatkan di Masjid Nurul Taqwa, Dinas Kesehatan Kabupaten Tulungagung. Beragam kegiatan digelar seperti belajar mengaji serta membangun motivasi.

Ni’mah, sapaan akrabnya menilai adanya stiga negatif membuat ruang gerak para penyintas ini di publik dikucilkan. Akses mereka ke masyarakat seakan dibatasi, dengan berbagai stigma yang melekat pada mereka karena terkena HIV/AIDS.

Mereka juga dikucilkan masyarakat, didiskriminasi, sehingga tidak punya sarana untuk belajar menjadi orang lebih bermanfaat seperti mengaji. Padahal, mereka juga sangat ingin beraktivitas seperti masyarakat pada umumnya dan bukan menjadi “asing” di masyarakat. 

Terlebih lagi, hingga kini penyakit tersebut belum ditemukan obatnya. Yang ada hanyalah Obat Antiretroviral (ARV) yang berfungsi untuk menekan virus HIV/AIDS dan menjaga daya tahan tubuh pasien.

Menurut Ni’mah, yang merupakan lulusan Manajemen Pendidikan Islam Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah (UIN SATU) Tulungagung ini, para penyintas justru lebih termotivasi untuk lebih sehat saat mereka mengikuti kegiatan majelis taklim ini. Selain bertemu sesama penyintas, mereka juga bisa belajar agama. 

“Mereka jadi lebih termotivasi, sehingga merasa hidup lebih bermakna, bermanfaat,” katanya Senin (3/6/2024). 

Ia menyebut, sesuai data di KPA Kabupaten Tulungagung, jumlah temuan penderita HIV/AIDS di Kabupaten Tulungagung hingga 2024 ini secara akumulatif mencapai 3.829 orang. Sedangkan selama 2024, mulai Januari hingga Mei mencapai 115 kasus. 

Untuk itu, ia berharap dengan majelis ini bisa menjadi media untuk semakin menekan jumlah HIV/AIDS di Kabupaten Tulungagung.

Adapun untuk kegiatannya, ia menyebut dilakukan satu pekan sekali. Selain pemberian motivasi, ada juga kegiatan mengaji.

“Ada yang benar-benar mulai nol belajar Iqro hingga mereka bisa membaca Al Quran. Saya terharu sekali dan mereka semangat sekali,” katanya. 

Ia juga semakin bangga, sebab banyak yang sudah hafal isi Kitab Suci Al-Quran. Ada yang sudah hafal juz 30, bahkan hingga ada yang hafal dua juz, kemudian hafal Surat Al Kahfi, Surat Al Waqi’ah, Surat Yasin, Surat Al-Mulk dan berbagai surat lainnya.

Ni’mah juga menambahkan, dukungan dari berbagai pihak juga sangat dibutuhkan agar para penyintas juga semakin bersemangat. Dukungan diperlukan juga demi menekan jumlah HIV di Kabupaten Tulungagung.

Dukungan lintas sektoral seperti dari kementerian agama, dinas kesehatan, dinas sosial, pemerhati HIV/AIDS menjadi penyemangat agar kasus ini bisa seminimal mungkin. 

“Dengan dukungan, mereka terlepas dari hal yang tidak baik kembali menjadi orang yang lebih bermanfaat, melakukan kegiatan positif. Tidak kembali terjerumus ke hal yang tidak dibenarkan agama,” kata dia.  

Ni’mah juga menyebut, inisiatif untuk membuat majelis taklim ini juga pernah diapresiasi Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur dan mendapatkan juara pertama. Bahkan, program yang dibuatnya akan diikutsertakan dalam lomba tingkat nasional di 2024 ini.

Dirinya berharap inovasi ini bisa menjadi proyek percontohan bagi daerah lainnya dan ditiru. Dengan itu, akan semakin banyak para penyintas yang akan bersemangat dalam menjalani hidup. 

Sementara itu, Kepala Seksi Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama Kabupaten Tulungagung Ahmad Balya mengatakan kementerian agama memang mempunyai penyuluh agama yang ditujukan untuk pendampingan ke masyarakat tentang keagamaan.

Ia menyebut, penyuluhan terkait dengan program di masing-masing penyuluh sesuai dengan bidangnya masing-masing, misalnya pemberantasan buta huruf Al-Quran, bagian kesehatan di HIV/AIDS, moderasi beragama dan bidang lainnya.

Pihaknya juga sangat mendukung dengan langkah yang dilakukan oleh Penyuluh Agama Kementerian Agama Kabupaten Tulungagung Ni’matul Khoiriyah yang mempunyai ide membuat “Majelis Taklim Sinau Agomo” tersebut. 

Menurutnya, hal itu sangat positif agar para penyintas semakin termotivasi untuk menerima takdir sakitnya, dan lebih giat belajar agamanya.

“Mereka yang sudah terkena HIV ini bagaimana diberikan kesadaran untuk mempertahankan kesehatan, bisa menerima bagaimana posisinya di masyarakat,” katanya. 

Pihaknya juga tidak segan turun langsung memberikan motivasi bagi para penyintas. Bahkan, dari Kementerian Agama Provinsi Jatim juga sangat mengapresiasi dengan turun langsung memberikan masukan dan motivasi bagi mereka.

Selain itu, dari dinas kesehatan serta dari relawan terkait juga peduli. Bahkan, dengan majelis ini para penyintas ternyata kini jadi lebih bisa mengenal agama. Mereka juga belajar untuk menghafal isi Kitab Suci Al Quran.

“Mereka ada yang hafal dua juz Kitab Suci Al Quran. Kami apresiasi program ini,” katanya.

Ia menyebut, majelis ini mengadakan pertemuan satu pekan sekali yang diikuti sekitar 30 orang penyintas hingga relawan. Ia berharap, ke depan semakin banyak penyintas yang ikut serta majelis ini dan sama-sama belajar agama lebih baik lagi. (*)

isra mi'raj nabi muhammad saw 1447H