Sidoarjo, tagarjatim.id – Perayaan Natal di SD Kristen Santo Yusup, Desa Tropodo, Kecamatan Waru, Kabupaten Sidoarjo, tahun ini tampil berbeda. Alih-alih membeli ornamen baru, ratusan siswa bersama guru justru menghadirkan pohon Natal raksasa setinggi lebih dari tiga meter dari sekitar 2.000 botol plastik bekas.
Mengusung konsep Eco Christmas, pohon Natal unik ini berdiri kokoh di halaman sekolah dan langsung mencuri perhatian. Botol plastik bekas minuman dicat hijau, digunting menyerupai daun, lalu dirangkai pada rangka berbahan galvalum dan kawat hingga membentuk pohon Natal megah setinggi 3 meter.
Tak hanya itu, pohon tersebut dihiasi berbagai ornamen kreatif hasil karya siswa, seperti lonceng, boneka Sinterklas, bintang, hingga lampu warna-warni. Seluruh pernak-pernik dibuat dari bahan bekas, menjadikan dekorasi Natal ini bukan hanya indah dipandang, tetapi juga sarat pesan kepedulian lingkungan.
Kepala SD Kristen Santo Yusup, Isidora Iva Handayani, mengatakan ide tersebut berangkat dari keprihatinan terhadap banyaknya botol plastik sekali pakai yang kerap terbuang sia-sia.
“Selama ini kami prihatin melihat banyak botol minuman bekas yang tidak dimanfaatkan. Dari situlah muncul ide, alangkah baiknya jika botol-botol ini diolah menjadi sesuatu yang bermakna,” ujar Isidora, Senin (15/12/2025)
Pengumpulan botol plastik dilakukan selama satu semester. Botol-botol tersebut berasal dari siswa dan lingkungan sekitar sekolah. Saat masa ujian tengah semester, kegiatan merangkai pohon Natal pun dimulai dan memakan waktu sekitar dua pekan.
Proses pembuatan melibatkan seluruh siswa sesuai jenjang kelas. Siswa kelas 4 hingga kelas 6 bertugas mengolah botol plastik menjadi daun-daun pohon Natal. Sementara itu, siswa kelas 1 hingga kelas 3 fokus membuat pernak-pernik dari berbagai bahan bekas, termasuk kain flanel dan kertas semen.
Selain pohon Natal, sekolah juga menghadirkan gua Natal yang terbuat dari kertas semen bekas. Di dalamnya terdapat fragmen kelahiran Yesus Kristus yang menggambarkan sukacita seluruh makhluk menyambut Sang Juru Selamat. Pembuatan gua tersebut turut melibatkan siswa dengan pendampingan guru, termasuk guru seni lukis sekolah.
“Gua ini juga hasil karya anak-anak. Untuk teknis tertentu memang dibantu guru, kebetulan kami memiliki guru seni khusus,” tambah Isidora.
Kini, pohon Natal dan gua ramah lingkungan tersebut menjadi spot foto favorit bagi siswa dan wali murid. Tak sedikit pengunjung yang mengabadikan momen sekaligus mengapresiasi kreativitas sekolah dalam menggabungkan nilai religius, edukasi lingkungan, dan pembelajaran karakter.
Melalui perayaan Natal bertema Eco Christmas, SD Kristen Santo Yusup tak hanya merayakan hari besar keagamaan, tetapi juga menanamkan kesadaran sejak dini tentang pentingnya menjaga lingkungan. Sebuah pesan sederhana, namun kuat. Perayaan penuh makna bisa dimulai dari kepedulian terhadap bumi.(*)




















