Sidoarjo, tagarjatim.id – Banjir yang melanda sejumlah desa di Kecamatan Candi pada pekan lalu mulai memunculkan kerugian nyata bagi para petani. Puluhan hektare lahan padi yang sempat terendam kini mengalami penurunan kualitas hasil panen. Banyak petani memilih tetap memanen meski gabahnya rusak.

Mainin, petani dari Desa Klurak, termasuk yang merasakan dampaknya. Ia harus memotong padi yang rebah dan menghitam setelah lebih dari sepekan terendam air.

“Tetap kami panen, mau tidak mau. Kalau dibiarkan malah tambah rugi,” ujarnya, Rabu (10/12/2025)

Mainin memiliki sawah satu hektare yang seluruhnya terendam banjir. Air baru surut sekitar tiga hari sebelumnya. Ia mengatakan, kerusakan lahan bukan hanya terjadi di wilayahnya.

“Di Klurak ada sekitar lima hektare terdampak. Di Kendalpecabean empat hektare, Kalipecabean sebelas hektare, dan Balonggabus sekitar tiga hektare,” jelasnya.

Situasi ini mendapat perhatian dari Komisi B DPRD Sidoarjo. Anggotanya, Kusumo Adi Nugroho, menyatakan akan memanggil Kepala Dinas Pangan dan Pertanian (Dispaperta) untuk meminta penjelasan mengenai kondisi tersebut. Sebelumnya, Komisi B juga telah berkoordinasi dengan beberapa perangkat daerah terkait tata ruang yang memicu kerentanan banjir.

Menanggapi kerugian petani, Adi menegaskan pihaknya akan mendorong langkah penanganan melalui dinas terkait.

“Pasti akan ada upaya bantuan untuk pertanian yang terdampak. Kami akan melihat dulu besaran kerugiannya,” tuturnya.

Soal asuransi pertanian, Adi mengaku Komisi B belum membahas kebijakan khusus untuk mendorong petani mengikuti program tersebut. Saat ini, fokus utama komisi masih pada penyusunan kebijakan yang dianggap lebih menyentuh kebutuhan masyarakat secara luas.(*)

isra mi'raj nabi muhammad saw 1447H