Kabupaten Malang, tagarjatim.id – Harapan akan berakhirnya polemik internal di tubuh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) datang dari Inisiator Hari Santri Nasional, KH Thoriq Bin Ziyad (Gus Thoriq). Harapan itu itu juga dilakukan dengan penyerahan tongkat komando berbahan kayu zaitun kepada Ketua PWNU Jawa Timur, KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin). Penyerahan simbolik itu dilakukan saat pertemuan keduanya di Pondok Pesantren Babussalam, Desa Banjarejo, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Malang, Jumat (5/12/2025) petang.
Dalam keterangannya kepada tagarjatim.id, Sabtu (6/12/2025), Gus Thoriq menegaskan pentingnya penyelesaian damai atas dinamika internal PBNU.
“Mendamaikan itu tugas yang mulia. Jangan sampai konflik internal PBNU justru meluas ke umat,” ujarnya.
Pertemuan tersebut berlangsung dalam suasana hangat. Gus Thoriq menyebut kedatangan Gus Kikin merupakan agenda silaturahmi. Sebagai warga NU, kata dia, seluruh pihak seharusnya berlomba dalam menghadirkan kemaslahatan bagi umat.
“Jangan sampai konflik berkepanjangan menjauhkan NU dari pondasi awal pendiriannya sebagai benteng aqidah,” tuturnya.
Gus Kikin sendiri merupakan Ketua PWNU Jawa Timur periode 2024–2029 dan juga Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang.
Dalam momen tersebut, Gus Thoriq menghadiahkan tongkat komando sepanjang 45 sentimeter yang dibuat dari kayu zaitun. Tongkat itu merupakan hasil karya santri Ponpes Babussalam yang memanfaatkan pohon zaitun berusia 7–10 tahun yang tumbuh subur di lingkungan pesantren.
Tongkat yang telah diberi asma’ itu dibuat selama sepekan. Bagi Gus Thoriq, tongkat tersebut bukan sekadar cendera mata, melainkan simbol harapan untuk meredakan ketegangan internal PBNU.
“Pohon zaitun dikenal sebagai pemersatu perbedaan, sebagaimana di wilayah Syam. Semoga tongkat ini membawa kedamaian bagi PBNU,” jelasnya.
Ia juga mengaitkan simbol itu dengan sejarah Nahdlatul Ulama, mengingat Syaikhona Kholil Bangkalan pernah memberikan tongkat kepada KH Hasyim Asy’ari saat mendirikan NU.
Disinggung soal pertemuan para kiai sepuh di Tebuireng pada hari yang sama, Gus Thoriq mengaku tidak hadir.
“Saya masih muda, bukan kiai sepuh. Namun kami berharap pertemuan itu membawa kebaikan dan Gus Kikin dapat mengislahkan konflik yang ada,” katanya.
Ia juga menyebutkan keyakinannya bahwa Gus Kikin (cicit pendiri NU, KH Hasyim Asy’ari) mampu menjadi pemersatu. Menurutnya, PBNU menjadi kekuatan besar di Indonesia berkat tiga momentum sejarah: kemenangan politik di era Orde Lama, peran dalam penumpasan paham komunisme, serta penetapan Hari Santri Nasional.
“Tongkat zaitun ini perlambang cahaya. Semoga PBNU semakin bercahaya dalam menaungi kepentingan umat yang heterogen,” ungkapnya.
Gus Thoriq menambahkan bahwa ia juga menantikan kedatangan Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf ke Malang.
“Bagaimanapun, sumbangsih Gus Yahya bagi NU sangat besar meskipun saat ini terjadi dinamika internal,” tandasnya.
Sementara itu, pertemuan sejumlah kiai sepuh NU siang tadi digelar di Ndalem Kasepuhan Ponpes Tebuireng, Jombang, dengan Gus Kikin sebagai tuan rumah. Sejumlah tokoh hadir, antara lain Prof. Dr. KH Said Aqil Siroj, KH Nurul Huda Djazuli, KH Muhammad Nuh, KH Abdussalam Sohib (Gus Salam), KH Kautsar dari Ploso Kediri, serta KH A. Mustofa Bisri (Gus Mus). (*)




















