Kota Batu, tagarjatim.id — Di tengah geliat Kota Batu yang kian modern, sosok Yuli (40) menjadi pemandangan yang membawa nostalgia. Perempuan asal Sampang, Madura, itu setiap hari berjalan perlahan menyusuri gang hingga jalan utama sambil menyunggi atau menopang peralatan sate di atas kepalanya. Cara berdagang yang dulu lazim dijumpai, kini hampir hilang ditelan zaman.
Yuli sudah delapan tahun menekuni pekerjaan ini sejak datang ke Kota Batu pada 2017. Dari rumah kontrakannya di Kelurahan Sisir, Jalan Brantas Gang 1, ia berangkat setelah subuh untuk menyiapkan bumbu dan daging yang akan ia jajakan.
“Saya masak sendiri, Mas. Dari pagi sudah nyiapin semua. Kalau sudah siap, baru saya jalan,” tuturnya saat ditemui, Selasa (25/11/2025) malam.
Rutinitas itu kemudian ia lanjutkan dengan langkah-langkah panjang yang terkadang bisa mencapai delapan kilometer dalam sehari. Tak peduli cuaca panas, mendung, atau hujan, Yuli tetap berjalan.
“Namanya cari makan, ya harus kuat. Badan capek biasa, yang penting bisa pulang bawa rezeki,” katanya sambil tersenyum.
Ia mengaku tak pernah terpikir menggunakan motor seperti pedagang lain. Selain karena tak memiliki kendaraan, ia justru merasa dekat dengan pembeli ketika berjualan sambil berjalan kaki.
“Kalau jalan gini, saya bisa ketemu banyak orang. Banyak yang kenal, banyak yang nyapa. Rasanya lebih enak, Mas,” ujarnya.
Saat singgah di suatu tempat untuk memanggang, aroma sate bakarannya cepat menarik perhatian warga. Bumbunya ia racik dengan cara yang ia pelajari dari keluarga di kampung.
“Dari dulu memang jualannya gini. Bumbunya saya bikin sendiri. Ada pembeli bilang rasanya beda, ya syukurlah kalau cocok,” ucap Yuli.
Di tengah langkah-langkahnya itu pula, ia sering mendapat obrolan ringan dari pelanggan. Salah satunya Azmy (34), pelanggan setia yang sudah mengenalnya selama beberapa tahun.
“Bu Yuli ini ramah sekali, satenya juga enak. Kalau lewat, aromanya langsung ketahuan,” kata Azmy.
Mengenai harga, Yuli tetap mempertahankan tarif yang terjangkau.
“Kalau ayam Rp 12 ribu, kambing Rp 20 ribu. Saya sesuaikan saja sama orang-orang sini. Yang penting laris,” ungkapnya.
Bagi Yuli, menjadi pedagang sate keliling lebih dari sekadar mencari nafkah. Ada rasa bangga bahwa ia masih mempraktikkan tradisi yang perlahan hilang.
“Sekarang sudah jarang yang jualan jalan kaki. Tapi saya sudah biasa dari dulu. Selama bisa, ya saya teruskan,” ucapnya mantap.
Setiap langkah Yuli menyusuri Kota Batu menyimpan cerita ketekunan seorang perempuan yang berpegang pada cara hidup sederhana. Di belakang tungku kecil dan sengatan asapnya, ada perjalanan panjang yang ia jalani dengan keikhlasan.
“Saya kerja kayak gini senang, Mas. Capek iya, tapi kalau pelanggan bilang satenya enak, ya hilang semua capeknya,” tutupnya.(*)




















