Kota Malang,tagarjatim.id – Pengurus Wilayah (PW) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Jawa Timur menegaskan komitmennya untuk memperjuangkan nasib petani tembakau di Jawa Timur. Organisasi kepemudaan Nahdlatul Ulama (NU) itu menilai para petani tembakau selama ini belum mendapat umpan balik yang adil dari tingginya pendapatan negara melalui sektor cukai hasil tembakau.

Ketua PW GP Ansor Jawa Timur, Musaffa Safril, mengatakan Jawa Timur selama ini menjadi penyumbang terbesar bagi pendapatan negara dari hasil cukai tembakau. Namun, kesejahteraan petani yang menjadi tulang punggung industri tersebut masih jauh dari harapan.

“Kita semua tahu bahwa Jawa Timur ingin menjadi lumbung tembakau terbesar di Indonesia. Bahkan, pendapatan negara tertinggi berasal dari cukai hasil tembakau, dan lebih dari separuhnya disumbang oleh Jawa Timur,” ujar Musaffa di sela pembukaam Musyawarah kerja wilayah (Muskerwil) GP Ansor di Malang, Sabtu (8/11/2025).

Menurut Musaffa, GP Ansor mendorong agar melalui forum Rakerwil ini muncul rekomendasi-rekomendasi kebijakan yang berpihak kepada petani, terutama mereka yang terlibat langsung dalam industri tembakau.

“Mengapa kita menyoroti petani tembakau? Karena sebagian besar kader Anshor adalah anak-anak petani, bahkan banyak yang merupakan petani tembakau sendiri. Saya dari Madura, dan saya sangat memahami persoalan ini,” jelasnya.

Musaffa menuturkan, dulu masyarakat bangga menjadi petani tembakau. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, kondisi mereka semakin terpuruk.

“Ayah saya dulu petani tembakau, tapi sejak saya SD beliau berhenti karena terus merugi. Tidak ada jaminan harga, tidak ada subsidi pupuk, dan tidak ada kebijakan yang benar-benar menjawab kebutuhan petani,” ungkapnya.

Padahal, lanjut dia, pendapatan negara terbesar justru berasal dari sektor tersebut. Sayangnya, hasil dari cukai tembakau lebih banyak dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur dan sektor lain, sementara subsidi, gudang penyimpanan, serta kepastian harga bagi petani tembakau masih minim.

“Para petani terus saja merugi. Karena itu, saya menilai wajar bila mereka disebut sebagai pemberi modal terbesar bagi pembangunan negeri ini,” tegas Musaffa.

Selain membahas isu tembakau, Rakerwil GP Anshor Jatim juga menyoroti penguatan internal organisasi, mulai dari kaderisasi, MBSRA, LBH, hingga patroli ketahanan pangan serta berbagai program strategis dan inovasi yang tengah digalakkan oleh GP Anshor.

Sementara itu, Kasatkorwil Barisan Anshor Serbaguna (Banser) Jatim ujar Rizza Ali Faizin, menambahkan, dalam rekernas Anshor ini, Banser Jatim siap mengawal  program ketahanan Plpangan dan ekonomi desa.

Dia menegaskan komitmennya untuk menjadi garda terdepan dalam mendukung program-program strategis Gerakan Pemuda (GP) Ansor, terutama di bidang ketahanan pangan dan pemberdayaan ekonomi desa.

“Banser ini kan pasukan intinya Anshor. Jadi apapun program yang dijalankan Ansor, Banser siap mendidihkan dan mendukung sepenuhnya,” ujarnya.

Rizza menjelaskan, Banser kini tidak hanya difokuskan pada pengamanan kegiatan sosial dan keagamaan, tetapi juga diarahkan untuk memperkuat gerakan ekonomi rakyat. Salah satu fokus utamanya adalah program “Satu Desa Satu Lahan” yang tengah digalakkan GP Ansor Jawa Timur.

“Gerakan ekonomi Banser harus terstruktur dan sistematis. Melalui program Satu Desa Satu Lahan, sahabat-sahabat di bidang pertanian, perkebunan, dan kesejahteraan akan terintegrasi mulai dari pimpinan wilayah, kabupaten, kecamatan, hingga desa,” terangnya.

Menurutnya, sistem ini memungkinkan setiap persoalan di lapangan, seperti kesulitan pupuk atau bibit, bisa disampaikan secara berjenjang dan terselesaikan lebih cepat.

Tak hanya itu, Banser bersama Anshor juga telah menyalurkan 169 ton bibit pertanian ke berbagai daerah di Jawa Timur.

“Alhamdulillah, bibit sudah kami bagikan ke kader-kader di bawah dan sudah termonitoring. Para sahabat di desa kini tidak hanya memproduksi, tapi juga kami bantu memasarkan agar hasilnya maksimal,” tutur Rizza.

Melalui langkah ini, Anshor dan Banser berharap peran pemuda desa dapat semakin kuat dalam menopang ketahanan pangan serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat di tingkat akar rumput. (*)

isra mi'raj nabi muhammad saw 1447H