Kota Malang, tagarjatim.id – PT Permodalan Nasional Madani (PNM) terus mendorong pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Jawa Timur untuk naik kelas melalui program Mekaarpreneur. Program ini merupakan ajang pengembangan kapasitas usaha bagi nasabah program Mekaar (Membina Ekonomi Keluarga Sejahtera). Mekaarpreneur, diikuti oleh 60 pelaku UMKM dari berbagai daerah di Jawa Timur dan berlangsung di Institut ASIA Malang.
Dari jumlah tersebut, peserta diseleksi menjadi 30, kemudian 15 finalis, hingga akhirnya dipilih tiga pemenang terbaik dengan kategori paling inovatif. Para peserta menjalani pendampingan selama tiga bulan, termasuk pelatihan tatap muka dan daring bersama mentor dari Institut ASIA Malang.
Kepala Divisi Pengembangan Kapasitas Usaha PNM, Okto Wibisono, menjelaskan bahwa kegiatan ini menjadi wujud nyata komitmen PNM dalam memberikan pembinaan berkelanjutan kepada nasabah Mekaar. Menurutnya, pembiayaan usaha mikro tidak cukup hanya dengan pemberian modal, tetapi juga harus dibarengi dengan peningkatan kapasitas dan inovasi.
“Selama tiga bulan kami melakukan Mekaarpreneur naik kelas. Mereka kami minta mempresentasikan inovasi produk, bisnis plan, dan strategi pemasaran. Hari ini kami pilih tiga pemenang terbaik yang akan mendapat pembinaan lanjutan dari PNM,” ujar Okto di Malang, Jumat (7/11/2025).
Adapun tiga pemenang Mekaarpreneur 2025 yakni Imroatus Sofia, pemilik Jejeku Store (kerupuk udang sangrai) sebagai juara pertama, Aulia Rahmawati, pemilik Purnomo Jali Bag (tas daur ulang) sebagai juara kedua dan Leli Irmawati, pemilik Nagi (nastar semanggi) sebagai juara ketiga.
Okto menegaskan, PNM tidak hanya menyalurkan pinjaman modal bagi perempuan prasejahtera, tetapi juga memberikan pembekalan manajemen usaha dan pelatihan kewirausahaan. Melalui Mekaarpreneur, nasabah yang memiliki produk unggulan di bidang kriya maupun kuliner diharapkan dapat memperluas pasar dan meningkatkan daya saing.
Pemilik Jejeku Store, Imroatus Sofia, mengungkapkan bahwa dirinya memulai usaha dengan modal awal sekitar Rp2 juta. Kini, usahanya berkembang dan mampu menjual hingga 250 toples kerupuk udang sangrai per bulan di wilayah Bangkalan, Surabaya, dan melalui penjualan daring.
“Kerupuk kami digoreng dengan pasir pantai, jadi lebih rendah kolesterol,” ujar Imroatus.
Sementara itu, Aulia Rahmawati mengaku tas buatannya memanfaatkan limbah plastik di sekitar rumahnya, sedangkan Leli Irmawati mengolah daun semanggi melimpah di Benowo, Surabaya, menjadi bahan utama nastar unik bernama Nagi.
Program Mekaarpreneur diharapkan dapat menjadi wadah lahirnya UMKM inovatif yang mampu bersaing di pasar nasional dan global.(*)




















