Lamongan, tagarjatim.id – Puluhan tim dayung dari berbagai kota di Jawa Timur antusias mengikuti Festival Dayung Tejoasri yang berlangsung di sepanjang bantaran sungai Bengawan Solo. Salah satu peserta yang menjadi pacu jalur dengan kostum Ultraman menjadi perhatian para penonton.
Aksi peserta dayung yang satu ini menjadi perhatian penonton dalam festival dayung di Desa Tejoasri, Kecamatan Laren, Kabupaten Lamongan Jawa Timur.
Aksi peserta dengan menggunakan kostum Ultraman ini menjadi pemacu jalur di saat lomba dayung di mulai. Aksinya ini sangat unik dan menjadi penyemangat peserta dayung. Bahkan DJ dari Surabaya didatangkan untuk memeriahkan festival dayung Tejoasri.
Sebanyak 41 tim dari sejumlah kota di Jawa Timur ikut berpartisipasi meramaikan festival tahunan ini. Festival yang sudah berjalan di tahun ketiga ini cukup berbeda dan tahun sebelumnya, dimana pada tahun ini peserta lebih banyak datang dari luar daerah, seperti dari Kabupaten Pasuruan, Gresik, Sidoarjo, Bojonegoro, dan Tuban.
Festival antar desa se-Provinsi Jawa Timur ini tidak hanya ditujukan untuk melestarikan olahraga tradisional, melainkan juga mampu menjadi pemantik potensi sosial budaya pariwisata hingga ekonomi di Kota Soto.
“Apresiasi sebesar-besarnya kepada Desa Tejoasri yang konsisten dan terus berkembang dalam menginisiasi Festival Dayung Tejoasri. Tahun ini adalah tahun ketiga dan tingkat Provinsi Jawa Timur. Pada tahun pertama digelar dimulai tingkat Desa Tejoasri, dan tahun kedua berkembang tingkat Kabupaten Lamongan. Tentu melalui kegiatan ini mampu menjadi pemantik potensi sosial budaya pariwisata hingga ekonomi masyarakat Lamongan,” tutur Pak Yes sapaan orang nomor satu di Lamongan yang hadir dalam festival dayung.
Dari segi sosial budaya pariwisata, melalui festival ini masyarakat bisa memberikan apresiasi, mengenang, hingga melestarikan kejayaan Kabupaten dari era Kerajaan Majapahit, Kolonial, hingga peradaban Islam. Salah satu pendukung kejayaan tersebut adalah Bengawan Solo yang menjadi denyut nadi perekonomian masyarakat Tejoasri dan sekitarnya.
Lalu pada peningkatan ekonomi masyarakat Desa Tejoasri, melibatkan seratus lebih UMKM lokal yang unjuk aneka ragam produksi khas Lamongan. Sehingga meningkatkan daya beli dan mengenalkan Kabupaten Lamongan ke masyarakat luar.
Hal tersebut juga diungkapkan oleh Kepala Dinas Dinas Kepemudaan dan Olahraga Provinsi Jawa Timur Hadi Wawan Guntoro yang hadir mewakili Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, bahwa festival dayung Tejoasri adalah event yang lengkap.
“Saya sangat berterimah kaih kepada kepala Desa Tejoasri adanya sosial budaya yang tidak melupakan kearifan lokal masyarakat setempat, gotong royong masyarakat, semangat sehat dengan olahraga tradisional, dan keterlibatan UMKM untuk menggerakkan roda ekonomi masyarakat setempat,” ucap Hadi.
Kepala Desa Tejoasri, Yusuf Bachtiar, menegaskan bahwa festival ini bukan semata ajang olahraga atau hiburan, melainkan sebagai upaya pihak Pemerintah Desa dalam menjaga dan menghidupkan kembali spirit kejayaan Bengawan Solo.
“Sungai Bengawan Solo bukan hanya jalur air biasa, tapi pernah menjadi denyut nadi ekonomi, pusat peradaban, dan sumber kehidupan bagi ribuan desa di sepanjang aliran bantaran Bengawan Solo. Selain itu, festival ini juga menjadi momentum untuk mengenalkan potensi Desa serta menguatkan identitas budaya masyarakat Bantaran Bengawan Solo,” ucap Kades Tejoasri, Yusuf Bachtiar.
Dengan rangkaian acara yang edukatif dan menghibur, Festival Dayung Tejoasri diharapkan tidak hanya menjadi agenda lokal, tetapi juga ikon wisata budaya dan olahraga air tingkat provinsi di masa mendatang.(*)




















