Penulis : Aming Naqsabandi
Kediri, tagarjatim.com – Pemerintah Kabupaten Kediri, Jawa Timur, mengadakan rembug stunting di Convention Hall Simpang Lima Gumul (SLG), Kabupaten Kediri.
Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana meminta Camat dan Kades agar pemberian makanan tambahan (PMT) tepat sasaran, benar-benar dikonsumsi oleh anak-anak di wilayahnya dan bukan orangtuanya.
Ia mengatakan dari laporan yang diterimanya, masih banyak PMT yang justeru dikonsumsi orang tua anak.
Hal tersebut, menurutnya, membuat PMT yang selama ini diberikan tidak efektif. Untuk itu, pihaknya menginstruksikan kepala desa dan camat untuk memonitor penyaluran PMT agar tepat sasaran.
“Pastikan pemberian PMT dikonsumsi anak-anak, bukan orang tuanya. Hal ini sering terjadi,” jelasnya Jumat (22/3/2024).
Selain itu, pihaknya juga menginginkan camat dan kepala desa mengetahui kondisi riil dan jumlah anak stunting di masing-masing wilayah. Dengan mengetahuinya, pendekatan dan intervensi akan bisa dilakukan secara efektif.
Pihaknya juga menginstruksikan agar camat dan kepala desa bisa membuat target penurunan angka stunting. “Camat harus punya target stuntingnya turun menjadi berapa persen di wilayahnya di tahun depan,” kata dia.
Untuk angka stunting di Kabupaten Kediri, Bupati menyebut terus mengalami trend yang positif karena terjadi penurunan dari tahun ke tahun. Menurut bulan timbang, pada 2021 angka stunting di Kabupaten Kediri adalah 14,1 persen.
Kemudian menurun secara signifikan menjadi 7,9 persen pada Februari 2024 lalu. Dengan demikian target one digit stunting dapat tercapai di tahun ini. Untuk itu, bupati berkacamata tersebut berharap tahun selanjutnya bisa menekan angk stunting hingga zero digit.
“Target saya bisa di 2025 atau 2026 bisa zero digit stunting,” harapnya.
Sementara itu, Ketua Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) yang sekaligus Wakil Bupati Kediri, Dewi Maria Ulfa mengatakan PMT sangat diperlukan dalam penanganan stunting dan wasting.
Menurutnya, selama 2023 angka wasting di Kabupaten Kediri juga mengalami penurunan dengan kolaborasi lintas sektor dan pemerintah desa.
“Wasting turun dari 5936 anak menjadi 5702 anak,” katanya. (*)




















