Kota Blitar, tagarjatim.id – Kasus Kejadian Luar Biasa (KLB) campak di Sumenep, Jawa Timur yang memakan 17 korban jiwa mengejutkan banyak pihak. Selain itu, dua ribu lebih jiwa juga menjadi suspect di 26 kecamatan di wilayah Sumenep.

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dikonfirmasi terkait langkah penanganan kasus ini mengatakan, berusaha mendorong percepatan imunisasi masal. Selain itu juga telah menurunkan tim, gabungan dari Unair, WHO, UNICHEF dan Kemenkes.

“Sudah kami lakukan ORI (outbreak response immunisation) bahasa sederhana imunisasi serentak. Tim dari unair juga turun, harapannya memang percepatan imunisasi serentak campak rubella di 26 kecamatan di Sumenep bisa disegerakan dan dijangkau,” ujarnya kepada wartawan saat melakukan Sidak pangan di Pasar Pon Kota Blitar, Selasa (27/8/2025).

Khofifah menambahkan, dirinya sudah melakukan upaya jemput bola. Upaya dilakukan dengan menurunkan tim di posyandu, puskesmas dan di pustu yang sudah jalan mulai beberapa hari lalu.

“Mulai tanggal 21 kemarin vaksin turun, vitamin A juga turun. Kemudian tanggal 22-23 saya datang untuk memulai imunisasi campak rubella dan tanggal 25 dilakukan ORI atau imunisasi serentak,” imbuhnya.

Kasus campak di Sumenep terungkap dengan jumlah korban jiwa yang mencapai 17 orang, periode Januari hingga Agustus 2025. Penyebab tingginya angka campak, salah satunya diduga akibat imunisasi yang bersamaan dengan pandemi covid 19. Dinkes Sumenep mengakui banyak anak tidak mendapat imunisasi saat pandemi COVID-19. (*)

isra mi'raj nabi muhammad saw 1447H