Penulis : Aming Naqsabandi

Kediri, tagarjatim.com – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Kediri, Jawa Timur, menyambut baik dukungan para relawan yang sangat antusias bergabung dalam tim. BPBD mengapresiasi sebab dukungan dari relawan juga diperlukan dalam penanggulangan bencana.

Kepala Pelaksana BPBD Indun Munawaroh mengatakan pihaknya juga siap memberikan pelatihan pada relawan tentang tanggap bencana.

“Gabungan relawan minta bantuan pelatihan tanggap bencana. Kami siap saja selama demi kemanusiaan dan kegiatan sosial,” kata Indun Munawaroh Minggu (17/3/2024).

Relawan Suket Teki Nusantara (RSTN) bersama Relawan Sedulur Wong Cilik (SCW) dan Komunitas Disabilitas Kota Kediri mengunjungi Kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat. Mereka ingin bersinergi menjadi relawan tanggap bencana.

“Kami bersama SCW dan temen-temen disabilitas ingin bersinergi menjadi relawan tanggap bencana alam sekaligus mengikuti pelatihan penanggulangan bencana bersama BPBD Kota Kediri,” ujar Ketua Harian RSTN Kediri Vinanda Prameswati.

Sinergi antara gabungan relawan RSTN, SCW dan Komunitas Disabilitas ini, kata Mbak Vinanda, sapaan akrabnya bertujuan untuk mempersiapkan diri baik secara fisik maupun mental dalam upaya mengantisipasi terjadinya bencana alam.

Para relawan meminta untuk diikutsertakan dalam pelatihan tanggap bencana sebagai bentuk peningkatan kompetensi dalam memberikan pertolonagn terhadap korban becana alam.

Dengan pelatihan tersebut, nantinya para relawan bisa memahami tugas-tugasnya sesuai dengan kapasitas masing-masing. Seperti misalnya, dalam mengevakuasi korban, pendirian dapur umurm, perawatan pasca bencana alam hingga pengoperasian sarana dan prasarana peralatan penunjang untuk mendukung penanganan kebencanaan.

Berdasarkan informasi terbaru dari BMKG, potensi cuaca ekstrem terjadi di sejumlah wilayah kabupaten dan kota di Jawa Timur. Sehingga berpotensi terjadi bencana hidrometeorologi seperti angin kencang, banjir dan juga tanah longsor.

Saat ini wilayah Jawa Timur berada di akhir musim hujan dan memasuki fase peralihan dari musim hujan ke musim kemarau.

Adanya aktivitas Madden Jullian Oscillation (MJO) dan gelombang Rossby menambah tingginya potensi pertumbuhan awan konvektif di wilayah Jawa Timur, serta adanya sirkulasi siklonik di utara Austalia mengakibatkan adanya pola konvergensi atau pertemuan angin di wilayah Jawa Timur yang berpengaruh terhadap peningkatan cuaca ekstrem sepekan ke depan. (*)

isra mi'raj nabi muhammad saw 1447H