Kota Batu, tagarjatim.id – Dugaan perundungan terhadap siswa baru kembali mencoreng citra sekolah negeri favorit di Kota Batu. Kasus ini menimpa MXN (13), siswa kelas 1 SMP, saat kegiatan kerja bakti sekolah pada 25 Juli 2025 lalu.
Menurut keterangan keluarga, saat itu MXN tengah mengelap jendela kelas bersama teman-temannya. Tiba-tiba, dua siswa kelas 3 menghampiri dan langsung melorotkan celana korban di hadapan puluhan siswa lain. Aksi tersebut memicu tawa dan ejekan dari banyak siswa di lokasi.
“Anak saya sedang membersihkan jendela, lalu dua kakak kelas mendekat dan menurunkan celananya. Semua teman-temannya tertawa. Itu memalukan sekali,” ujar Suhermawan, orang tua korban kepada tagarjatim.id.
Salah satu teman korban yang menyaksikan kejadian tersebut langsung melapor kepada pihak sekolah dan orang tua MXN. Menurut keluarga, mereka kemudian mendatangi sekolah untuk meminta klarifikasi sekaligus mengajukan mediasi.
“Kami langsung datang ke sekolah. Waktu itu pihak sekolah bilang akan ada mediasi dengan orang tua pelaku. Mereka janji akan mengundang kami. Tapi sampai tiga minggu, tidak ada kabar apa pun,” ungkapnya.
Keluarga korban mengaku kecewa berat terhadap sikap sekolah yang dinilai lamban. “Kami bukan bicara soal anak kami trauma atau tidak. Dia memang tidak terlihat tertekan. Tapi ini soal pembiaran dan lemahnya pengawasan,” tegas sang ayah.
Menurutnya, pihak sekolah seharusnya bersikap tegas sejak awal. “Ini bukan gurauan. Kalau mereka bilang bercanda, pantaskah? Anak saya bahkan belum kenal sama sekali dengan pelaku karena baru masuk sekolah. Bagaimana bisa dibilang bercanda?” tambahnya dengan nada kesal.
Keluarga korban juga menyoroti status sekolah tersebut yang menjadi salah satu favorit di Kota Batu. “Justru karena sekolah ini favorit, seharusnya pengawasan lebih ketat. Jangan sampai anak-anak merasa bebas melakukan apa pun tanpa konsekuensi,” ujarnya.
Hingga berita ini diturunkan, pihak sekolah belum memberikan penjelasan resmi terkait keterlambatan mediasi maupun sanksi terhadap pelaku. Keluarga korban berharap kejadian ini menjadi pelajaran serius. “Sekolah harus benar-benar membenahi sistem. Jangan menunggu ada korban lain baru bertindak,” pungkasnya.(*)




















