Kota Batu, tagarjatim.id – Masa pembiasaan di Sekolah Rakyat (SR) Kota Batu yang dimulai sejak awal Agustus 2025 terus berlangsung. Namun, dinamika pun terjadi di tengah proses adaptasi ini. Dari 150 siswa tingkat SMP yang semula terdaftar, kini tersisa 148 siswa setelah dua siswa laki-laki asal Pujon, Kabupaten Malang, resmi mengundurkan diri atas permintaan orang tua.
Keputusan tersebut diambil di tengah proses adaptasi yang cukup intens di SR Kota Batu. Sekolah yang dikenal dengan konsep pembelajaran tanpa gawai ini menekankan pembentukan karakter, kemandirian, dan keterampilan hidup sebagai pondasi sebelum siswa memasuki pembelajaran formal.
Kepala Sekolah SR Kota Batu, Yuliana, menjelaskan bahwa pengunduran diri ini adalah bagian dari dinamika yang kerap terjadi di awal tahun ajaran, bukan sesuatu yang dianggap sebagai kegagalan sekolah.
“Kami memahami bahwa setiap anak memiliki proses adaptasi yang berbeda, dan begitu pula orang tua. Sistem pembelajaran di sini sangat berbeda dengan sekolah pada umumnya. Tidak ada HP, tidak ada gadget, dan kegiatan lebih banyak difokuskan pada pembentukan karakter dan keterampilan hidup. Bagi sebagian keluarga, ini tantangan yang cukup besar. Jadi ketika ada yang memilih mundur, kami memandangnya sebagai keputusan bersama yang diambil demi kenyamanan anak, bukan karena sekolah gagal memberikan layanan,” ujarnya, Senin (11/8/2025).
Yuliana menegaskan, masa pembiasaan di SR Kota Batu dirancang bukan hanya sebagai pengisi waktu sebelum pelajaran dimulai, melainkan sebagai proses penanaman nilai dan kebiasaan positif yang akan berguna sepanjang hidup siswa.
“Di masa ini, anak-anak belajar disiplin, mengatur waktu, mandiri, menjaga kebersihan, menghargai orang lain, dan mengatasi masalah tanpa bergantung pada teknologi. Setiap Senin ada kegiatan life skill, seperti memasak, berkebun, atau membuat kerajinan. Hari-hari lainnya diisi dengan penguatan materi dasar seperti matematika, bahasa Indonesia, dan pengetahuan umum. Jadi ketika nanti masuk pelajaran inti, mereka sudah siap, tidak kaget, dan punya mental belajar yang kuat,” tambahnya.
Meski kehilangan dua siswa, suasana belajar di SR Kota Batu tetap berjalan kondusif. Sebanyak 148 siswa yang bertahan, termasuk 50 siswa baru dari luar daerah seperti Kediri, tetap melanjutkan masa pembiasaan dengan penuh antusias. Pihak sekolah bahkan menyebut semangat siswa yang bertahan justru semakin kuat karena merasa sudah menjadi bagian dari komunitas belajar yang unik ini.
Orang tua siswa yang mendukung konsep ini juga melihat perkembangan positif pada anak-anak mereka. Beberapa di antaranya mengaku anak mereka menjadi lebih disiplin di rumah, mulai membantu pekerjaan rumah, dan lebih fokus saat belajar.
Pihak sekolah memastikan pembelajaran formal akan dimulai pada akhir Agustus 2025, setelah masa pembiasaan tuntas. Yuliana berharap semua siswa yang bertahan dapat memanfaatkan periode ini untuk memperkuat mental, kebiasaan belajar, dan karakter.
“Masa pembiasaan ini ibarat menanam benih. Kalau benihnya bagus, dirawat, dan diberi nutrisi yang tepat, nanti akan tumbuh pohon yang kuat. Begitu juga dengan anak-anak, kalau fondasinya kuat di awal, mereka akan lebih siap menghadapi tantangan pembelajaran dan kehidupan ke depan,” pungkasnya.(*)




















