Penulis : Dixs Fibrian
Malang, tagarjatim.com – Menjelang bulan suci Ramadhan yang tinggal dalam hitungan hari, warga Desa Madyopuro, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang, Jawa Timur, mengadakan kirab gunungan apem. Acara ini rutin dilakukan untuk melestarikan tradisi yang disebut “Megengan”.
Ketua panitia acara itu, Devi Nur Hadianto mengatakan kirab gunungan apem ini digelar di area makam Ki Ageng Gribik. Acara ini bagian dari adat jawa yakni megengan yang biasa dilakukan menyambut bulan suci Ramadhan.
Dalam acara ini, yang dikirab adalah apem. Makanan ini mempunyai makna mendalam yakni dari kata Afwan yang artinya meminta maaf.
“Kalau awal puasa megengan diwujudkan dengan membuat apem. Ini dari kata Afwan, meminta maaf. Ini tujuannya satu bahwa puasa Ramadhan adalah bulan yang harus disambut gembira,” jelasnya Sabtu (9/3/2024).
Sebelum kirab tersebut, kata dia, kue apem dibuat oleh ibu-ibu. Makanan ini terbuat dari tepung beras dicampur dengan santan, gula pasir, dan berbagai bahan lain sehingga menjadi kue apem. Adonan itu kemudian dicetak satu per satu dan dipanggang.
Sedangkan yang bapak-bapak membuat rangka gunungan. Setelah kue jadi, dibungkus satu per satu dengan plastik kemudian disusun di rangka gunungan hingga memenuhi seluruh gunungan tersebut.
Kue itu kemudian dibawa para peserta keliling kampung dengan finish di area makam Ki Ageng Gribik. Kendati hujan deras turun, tak menyurutkan semangat mereka untuk megengan.
Setelah di lokasi area makam Ki Ageng Gribik, kue kemudian diperebutkan warga. Anak-anak juga turut serta berebut kue tradisional ini. Dalam waktu singkat, ratusan kue apem yang disusun sedemikian rupa habis diperebutkan warga.
Sementara itu, Ratna, salah seorang warga yang ikut acara megengan itu mengaku senang. Ia yakin kue yang dibagikan ini membawa berkah.
Dirinya berharap kegiatan ini terus lestari. “Ini kegiatan yang harus dilestarikan, dilakukan anak muda,” kata Ratna. (*)




















