Kota Malang, tagarjatim.id – Universitas Brawijaya (UB) menggelar Pengenalan Kehidupan Kampus (PK2) bagi mahasiswa baru mulai Senin (11/8/2025). Pembukaan PK2MABA ini dilaksanakan di lapangan rektorat, yang diikuti 6.000 mahasiswa dari berbagai fakultas.

Di tahun ini, PK2MABA digelar secara hybrid. 6.000 orang mengikuti kegiatan secara langsung, sementara 11.133 lainnya mengikuti secara daring.

Rektor Universitas Brawijaya, Prof. Widodo, M.Si menyampaikan, pelaksanaan PK2 MABA secara hybrid dilakukan berdasarkan masukan dari berbagai pihak. Universitas Brawijaya juga menegaskan sebagai kampus yang adaptif dengan penggunaan teknologi digital.

“Untuk mengurai kepadatan dan kemacetan kalau ada mahasiswa baru, agar masyarakat juga tidak merasa terganggu. Selain itu kita juga menegaskan pada mahasiswa baru, bahwa Universitas Brawijaya memanfaatkan teknologi dalam aspek pendidikannya,” ungkapnya.

Ketua pelaksana PK2MABA 2025, Amelia Rizky Ramadhan, menjelaskan bahwa penugasan nantinya lebih banyak berbasis digital dan paperless. Seluruh kegiatan mulai progres kerja, notulensi, hingga absensi berbasis QR code, akan dipantau melalui website https://rajabrawijaya.ub.ac.id/.

“Semua ini kami rancang agar koordinasi lebih efektif dan efisien,” tutur Amelia.

Bagi Amelia, inovasi ini bukan sekadar soal teknologi, tapi juga soal kesiapan generasi muda UB menghadapi era yang serba cepat.

“Kami ingin mahasiswa baru bisa mengenal lingkungannya, mengeksplorasi peluang, dan menemukan dunia baru mereka di Universitas Brawijaya,” tambahnya.

Pada pembukaan PK2MABA kali ini juga dilakukan dengan selebrasi isyarat dan penggunaan 5 bahasa berbeda. Wakil Rektor 1, Prof. Imam Santoso menjelaskan, Universitas Brawijaya berkomitmen untuk terus memberikan kesempatan yang sama bagi siapapun untuk memperoleh pendidikan.

“Universitas Brawijaya merupakan salah satu pioner perguruan tinggi yang memberikan layanan kepada mahasiswa yang difabel,” ungkapnya.

“Tahun ini saja, mahasiswa yang kami rekrut melalui jalur penerimaan mahasiswa difabel sebanyak 51 orang,” tambahnya.

Program ini juga untuk menekankan kepada mahasiswa baru bahwa mereka harus peduli dengan lingkungannya. Karena mahasiswa UB terdiri dari berbagai latar belakang dan kondisi.

Sementara penggunaan 5 bahasa yang berbeda dilakukan untuk menegaskan bahwa UB merupakan kampus yang sudah mendunia. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya mahasiswa asing yang menempuh pendidikan di UB.

“Mahasiswa kami tak hanya dari dalam negeri saja, tapi juga dari luar negeri. Mahasiswa kami dari berbagai negara seperti Amerika, Eropa, Asia Selatan, dan Timur Tengah,” tutupnya. (*)

isra mi'raj nabi muhammad saw 1447H