Kota Malang, tagarjatim.id – Perhimpunan Hotel dan Restaurant Indonesia (PHRI) Kota Malang merasa keberatan dengan adanya wacana pengenaan royalti lagu di Restauran maupun cafe. Akibat isu royalti lagu tersebut, pengusaha restoran dan cafe di Malang memilih menghentikan live music untuk menghibur pengunjungnya.
Ketua PHRI Kota Malang Agoes Basoeki menyayangkan adanya pengenaan royalti lagu di restoran dan cafe. Ia menilai pengenaan royalti itu memberatkan pengusaha resto dan cafe.
“Saat ini banyak Restoran yang menghentikan kegiatan live musik, bahkan juga ada yg sampai tidak memutar lagu-lagu di restorannya. Apalagi, tarif royalti dihitung per kursi dan per meter persegi luas area. Tentu ini sangat memberatkan,” kata Agoes, Jumat (8/8/2025).
Agoes menjelaskan pengenaan royalti lagu ini sudah dilakukan sejak beberapa tahun lalu. PHRI pun juga melakukan
Memorandum of Understanding (MoU) dengan Lembaga Manajemen Kolektif Nasional (LMKN).
“Hotel bintang 3 ke atas juga sudah melakukan pembayaran royalti dengan bukti diterbitkannya sertifikat LMKN,” ungkap Agoes.
Dia mengakui jika pengenaan royalti lagu untuk resto dan cafe ini belum sepenuhnya dibayar pengusaha resto dan cafe. Hal itu disebabkan karena aturan pembayaran royalti lagu belum jelas dan masih rancu.
Agoes pun berharap pihak LMKN atau Kementerian terkait melakukan sosialisasi. Dia pun juga menyayangkan pihak pencipta lagu melakukan razia ke resto dan cafe.
“Pencipta lagu jangan lalu ikut melakukan Razia ke resto-resto, karena urusannya bukan antara pihak resto dengan pencipta lagu, melainkan silahkan berurusan dengan LMKN di pusat,” tegas Agoes.
Terkait isu royalti ini, kata Agoes, pihaknya sudah menyampaikan persoalan ini ke PHRI Jatim dan pusat, dengan harapan ada solusi terbaik yang bisa diterima kedua belah pihak.
“Jadi sekali lagi solusi terbaik adalah pihak LMKN atau Kementerian terkait melakukan sosialisasi. Karena saat ini juga masih rancu aturannya,” harap Agoes.
Agoes menambahkan pengenaan royalti lagu ini tidak hanya berdampak pada pengusaha resto dan cafe, tapi juga berdampak pada musisi lokal.
“Ini tentunya sangat berdampak terhadap musisi lokal yang mengandalkan nafkah dari live musik di resto dan cafe,” pungkas Agoes. (*)




















