Jombang, tagarjatim.id – Memasuki bulan Agustus, identik dengan berbagai kegiatan di masyarakat seperti karnaval. Bulan Agustus menjadi panen raya bagi pengusaha kostum karnaval.
Adalah Hari Suciono (35), warga Desa Pangkulan, Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang. Ia mempunyai bisnis membuat aneka kostum untuk karnaval. Memanfaatkan limbah, usahanya ini mendatangkan cuan yang cukup besar.
Hari mengaku usahanya ini digeluti sudah cukup lama. Berawal dari membuat pesanan untuk kostum dalam jumlah sedikit, namun kini pesanan makin banyak.
Dirinya mengaku memanfaatkan berbagai macam bahan di lingkungan seperti spon, biji-bijian, bulu ayam, bulu burung dan bahan alam lainnya yang ada di sekitar Lereng Gunung Anjasmoro.
Untuk membuat kostum, awalnya didesain bentuk kostum yang diinginkan. Jika sudah, kemudian busa ati atau spon sebagai bahan dasar pembuatan kostum karnaval diukir.
Busa yang sudah diukir itu kemudian disambungkan satu dengan lainnya menggunakan lem. Agar lebih menarik, kostum kemudian beri cat sesuai dengan warna yang diinginkan.
Salah satu yang dibuatnya adalah kostum dayak. Saat membuatnya, selain mengukir busa, kostum itu juga ditempeli dengan berbagai biji-bijian dan bulu yang ia dapat dari limbah yang sudah tidak terpakai.
Proses yang cukup rumit serta harus detail, kata dia membuat kostum tidak bisa langsung jadi. Setidaknya butuh waktu antara tiga hari hingga lebih dari satu bulan tergantung tingkat kesulitan pembuatan kostum.
“Tergantung tingkat kesulitannya. Yang paling cepat itu tiga hari selesai, ada yang tingkat kesulitannya lebih tinggi hampir sampai satu bulan,” jelasnya Minggu (3/8/2025).
Dirinya menyebut, selain memenuhi pesanan, ia juga membuat kostum untuk disewakan.
Untuk tingkat harganya juga bervariasi. Untuk yang penyewaan antara Rp200 ribu hingga Rp 1 juta per kostum sedangkan untuk yang dijual juga tergantung tingkat kesulitan atau mewahnya kostum, mulai Rp500 ribu hingga lebih dari Rp 1 juta per kostum.
Selama ini, Hari mengaku dibantu pamannya untuk mengerjakan berbagai macam kostum pesanan seperti pakaian adat, reog, hingga maskot kerajaan.
Kostum hasil karyanya juga banyak dipesan baik dari lokal Jombang hingga luar kota seperti Mojokerto, Gresik, hingga Sidoarjo.
Ia mengaku omzet dari hasil kerajinan yang dibuatnya juga cukup bagus, apalagi memasuki bulan Agustus, banyak sekali agenda karnaval digelar. Dalam satu bulan, ia bisa mengantongi hingga puluhan juta dari hasil membuat kostum. (*)




















