Kota Surabaya, tagarjatim.id – Meski jumlah kecelakaan lalu lintas menurun drastis selama pelaksanaan Operasi Patuh Semeru 2025, nyatanya angka korban jiwa justru mengalami lonjakan. Fenomena ini menjadi alarm keras bagi pengguna jalan di Jawa Timur, terutama soal kesadaran berkendara aman.
Operasi yang digelar Polda Jatim selama dua pekan, mulai 14 hingga 27 Juli, berhasil menekan jumlah kecelakaan dari 662 kejadian pada 2024 menjadi 402 pada tahun ini. Penurunan sebanyak 259 insiden ini tentu patut diapresiasi. Tapi di balik catatan positif itu, ada fakta pahit yakni korban meninggal dunia justru bertambah.
“Dapat kami sampaikan bahwa kecelakaan memang menurun signifikan. Namun korban meninggal naik dari 18 menjadi 23 jiwa,” ungkap Dirlantas Polda Jatim, Kombes Pol Iwan Saktiadi, Kamis (31/7/2025).
Korban luka berat juga ikut turun, dari 61 menjadi 50 orang. Begitu pula korban luka ringan, dari 1.012 orang pada 2024 menjadi 569 orang tahun ini. Bahkan kerugian materiil akibat kecelakaan ikut menurun dari Rp 1,04 miliar menjadi Rp 672 juta.
Namun tak semua sisi menunjukkan perbaikan. Angka pelanggaran lalu lintas justru melonjak dari 386.100 menjadi 430.151 pelanggaran atau naik sekitar 11 persen.
“Pelanggaran masih cukup tinggi. Ini menjadi pekerjaan rumah bersama agar pengendara lebih disiplin,” tegasnya.
Dari sisi penindakan, tilang elektronik justru mengalami penurunan tajam. E-Tilang statistik turun dari 27.962 menjadi hanya 3.227, dan e-Mobile dari 14.161 menjadi 2.411. Sebaliknya, tilang manual mengalami lonjakan dari 50.024 menjadi 60.717.
“Untuk tilang manual pada tahun ini memang ada peningkatan. Itu sebagai bagian dari penegakan hukum langsung di lapangan,” pungkasnya.
Polda Jatim menegaskan bahwa operasi bukan sekadar soal angka, tapi menyentuh budaya berlalu lintas. Harapannya, masyarakat bisa menjadikan keselamatan sebagai prioritas utama, bukan hanya menghindari tilang. (*)




















