Jember, tagarjatim.id – Setelah beberapa hari nyaris melumpuhkan aktivitas masyarakat di Jember, Pertamina melalui anak usahanya, PT Pertamina Patra Niaga akhirnya mulai bergerak cepat mengatasi krisis pasokan BBM di kawasan Tapal Kuda. Perusahaan energi milik negara itu mengklaim telah menambah armada distribusi dengan 93 truk tangki tambahan, per Rabu (30/07/2025).

Sebelumnya, distribusi BBM untuk Jember dan sekitarnya terganggu, 2 hari setelah Jalur Gumitir ditutup total Kementerian Pekerjaan Umum (Kemen PU) pada 24 Juli 2025. Jalur tersebut merupakan jalur utama penghubung Jember dan Banyuwangi.

Selama ini, distribusi BBM mengandalkan Terminal BBM Tanjung Wangi di Banyuwangi. Merespon krisis dan keluhan warga, Pertamina kini mengalihkan distribusi BBM melalui Terminal Malang serta Surabaya. Bahkan, sebagian pasokan BBM didatangkan dari wilayah Jawa Tengah seperti Semarang, Rewulu, Maos, dan Boyolali.

“Pengalihan jalur distribusi ini terpaksa dilakukan karena akses utama terganggu. Kami upayakan distribusi bisa tetap berjalan agar masyarakat tidak panik,” kata Area Manager Communication, Relations, & CSR Pertamina Patra Niaga Jatimbalinus, Ahad Rahedi dalam pernyataan tertulisnya kepada awak media, Rabu (30/7/2025).

Pertamina juga mengklaim telah meningkatkan distribusi BBM harian di wilayah Tapal Kuda, dari semula 982 kiloliter menjadi lebih dari 2.000 kiloliter per hari.

Pada Selasa malam (29/7/2025), Executive General Manager Pertamina Patra Niaga, Ajianan Purwasakti, telah menemui Bupati Jember untuk membahas penanganan krisis. Pertemuan ini disebut sebagai bentuk komitmen perusahaan terhadap normalisasi distribusi BBM di wilayah terdampak, termasuk Bondowoso, Situbondo, dan Lumajang.

Ahad Rahedi meminta masyarakat tidak panik dan membeli BBM secara bijak. Ia juga mengimbau agar pengisian dilakukan sesuai kebutuhan guna mencegah antrean panjang di SPBU.

Lebih lanjut, masyarakat juga diminta waspada terhadap praktik penimbunan dan penyimpangan distribusi di lapangan. “Jika melihat aktivitas mencurigakan seperti pembelian berulang dalam jumlah besar atau penyalahgunaan distribusi, segera laporkan ke aparat penegak hukum,” ujarnya.

Langkah Pertamina ini mendapat sorotan karena dianggap terlambat. Penambahan armada baru dilakukan beberapa hari setelah warga menjerit dan kondisi mulai memicu kepanikan. Ketergantungan distribusi pada jalur darat yang sempit dan rawan longsor seperti Gumitir menunjukkan lemahnya mitigasi krisis logistik energi di kawasan timur Jawa.

Pantauan jurnalis tagarjatim.id di lapangan menunjukkan bahwa antrean kendaraan di sejumlah SPBU di Jember masih panjang. Langkah taktis Pertamina belum cukup efektif untuk meredakan krisis distribusi BBM di Jember.

Sejumlah warga di pelosok desa di Jember kawasan timur, bahkan rela menempuh puluhan kilometer hingga ke Banyuwangi hanya demi mendapatkan satu-dua liter Pertalite. Mereka nekat melintasi jalur ekstrem seperti hutan, demi mengantre di SPBU yang ada di Banyuwangi.

“Pekerjaan saya cuma buruh kebun dan sangat membutuhkan kendaraan. Upah kami hanya Rp 50 ribu per hari. Sedangkan harga bensin sejak krisis ini mencapai Rp 25 ribu, tidak cukup uang kami,” ujar Nur Kartika, warga dari Desa Mrawan, Kecamatan Mayang yang harus menempuh jarak hingga 40 kilometer untuk mencari bensin ke Banyuwangi.

Ia berharap, pemerintah -termasuk Pertamina dan pemerintah pusat- bisa segera benar-benar efektif mengatasi krisis pasokan BBM di Jember yang sudah berlangsung nyaris satu pekan. (*)

isra mi'raj nabi muhammad saw 1447H