Jombang, tagarjatim.id – Ratusan hektar tanaman tembakau di Desa Pengampon, Kecamatan Kabuh Jombang, mengalami puso alias gagal panen. Akibatnya, petani mengalami kerugian hingga ratusan juta rupiah.
Selasa (29/7/2025) pagi kondisi tanaman tembakau milik petani yang belum genap tiga bulan ini tampak layu dan mengering. Bahkan di bagian batang akarnya tumbuh jamur yang jika tidak dicabut akan menular ke tanaman tembakau lainnya.
Petani pun terpaksa mencabut tanaman tembakau yang layu kering dan berjamur tersebut.
Menurut Usman, salah satu petani Desa setempat, penyebabnya karena faktor cuaca ekstrim.
“Ini karena musimnya kemarau basah jadi petani kalau di daerah sini sudah 5 kali tanam, tapi hasilnya ya seperti ini gagal panen,” katanya.
“Karena mungkin terlalu banyak hujan sehingga tembakaunya jadi layu seperti ini, kalau ini tetap dipaksakan ya percuma,” sambung Usman.
Dijelaskan Usman, untuk ongkos sekali tanam dengan luasan lahan satu hektar mencapai 25 juta rupiah, sedangkan petani sudah menanam hingga lima kali namun terus gagal panen.
“Kalau sekali tanam tergantung luasnya, kalau 1 hektar kurang lebih antara 20 sampai 25 juta,” pungkasnya.
Sementara data gapoktan (gabungan kelompok tani) desa setempat mencatat luas lahan pertanian 345 hektar dan yang ditanami tembakau 60 persennya.
“Untuk desa kami luas lahan 345 hektar yang ditanami tembakau 60 persen,” ujar Ketua Gapoktan Desa Pengampon Suwandi saat ditemui di sekitar areal pertanian tembakau.
Dari 60 persen itu, dikatakan Suwandi, 50 persen mengalami gagal panen. tidak ada upaya lain selain terus menanam tembakau.
Pasalnya Desa Pengampon ini merupakan sentra tembakau dan petani tidak mau beralih ke tanaman lainnya.
“Yang gagal panen 50 persen karena kena cuaca ekstrim. untuk upaya Gapoktan yang dilakukan pada petani gimana ya ndak bisa dijelaskan menanam lagi usahanya sudah 4 kali menanam hasilnya belum baik,” kata Suwandi.
“Karena penduduk pengampon untuk tembakau jadi komoditas jadi ada yang bersemboyan hidup mati tidak seperti menanam tembakau jadi mau ditanami jagung tidak mau karena sudah merasakan hasil dari tembakau,” tandasnya.
Untuk tanaman tembakau yang layu dan mati akibat cuaca ekstrim itu tetap dijual oleh petani. Hanya saja harganya jauh dibawah pasaran, yakni 4 ribu rupiah perkilo.(*)




















