Tagarjatim.id – Hasil koordinasi antara Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Jawa Timur-Bali dengan pihak Kepolisian dan Dinas Perhubungan daei Kabupaten Jember, Banyuwangi dan Bondowoso memutuskan menutup total Jalur Gumintir selama dua bulan terhitung sejak 24 Juli 2025 hingga 25 September 2025.
Pasalnya, jalur ini merupakan jalur utama distribusi logistik dan transportasi yang menghubungkan wilayah Jember, Banyuwangi, bahkan hingga ke Bali.
Penutupan dua arah ini dikarenakan adanya perbaikan Jalur Gumitir, yang terletak di Km Sby 233+500, mencakup perbaikan penanganan longsoran dengan perkuatan lereng bawah menggunakan konstruksi bored pile di 55 titik sepanjang 115 meter, serta perbaikan geometri jalan untuk keselamatan pengendara.
Potensi Gangguan Distribusi dan Ancaman Inflasi
Pemkab Banyuwangi menyampaikan bahwa kekhawatiran utama bukan pada kepentingan proyek, melainkan dampak yang akan timbul karena adanya penutupan total.
Kepala Dishub Banyuwangi, Komang Sudira Atmaja, menegaskan bahwa penutupan tersebut dapat mengganggu distribusi logistik secara signifikan, termasuk pengiriman bahan pokok serta bahan bakar minyak (BBM)
“Distribusi BBM dari Banyuwangi ke Jember dan Wilayah Sekitarnya bisa terganggu karena truk tangki tidak bisa melewati jalur alternatif akibat ada batas maksimal beban jembatan. Ini sudah jelas akan memicu inflasi karena ongkos distribusi naik,” jelas Komang.
Komang juga menjelaskan bahwa jika distribusi logistik naik, harga-harga kebutuhan pokok juga berpotensi naik tidak hanya di wilayah Banyuwangi dan Jember, tetapi juga di Bali yang sebagian besar pasokan logistik mengandalkan Jalur Gumitir.
Dampak dari penutupan jalan tersebut saat ini juga sudah mulai dirasakan oleh warga sekitar. Banyak pedagang yang mengeluh pendapatan mereka menurun drastis akibat kurangnya kendaraan yang menjadi sumber utama pembeli dagangan mereka.
Melansir dari website Seblang terdapat salah satu pedangang sayuran di Kecamatan Silo yang setiap hari membeli sayur dari Kecamatan Kalibaru, Banyuwangi karena harga lebih murah. Namun, saat ini ia merasa kesulitan mendapatkan pasokan karena akses ke Banyuwangi tertutup total.
“Iya, ini imbas dari penutupan, saya akui penutupan ini sangat mempengaruhi kami. Saya biasanya belanja ke Kalibaru soalnya lebih murah, tapi sekarang gak bisa lagi,” ungkap Marsini.
Rute Alternatif Penutupan Jalur Gumitir
Selama penutupan, kendaraan dialihkan melalui jalur alternatif yang telah disiapkan dan disepakati oleh tiga daerah: Jember, Banyuwangi, dan Bondowoso. Berikut skemanya:
1. Untuk kendaraan roda 2 hingga roda 6:
- Dialihkan melalui Bondowoso – Situbondo – Banyuwangi (PP).
2. Untuk kendaraan barang >15 ton:
- Wajib lewat Lumajang – Probolinggo – Situbondo – Banyuwangi, menghindari jembatan darurat di Situbondo yang hanya kuat 15 ton.
3. Dari arah Surabaya dan Lumajang menuju Banyuwangi:
- Disarankan ambil jalur Leces – Probolinggo – Situbondo – Banyuwangi.
BBPJN juga menegaskan, jalur tikus di sekitar Alas Gumitir tidak layak dilalui kendaraan umum. Jalan tanah sempit, gelap, dan tak beraspal itu hanya boleh digunakan warga lokal.
“Jangan ambil risiko lewat jalan alternatif liar. Itu bukan solusi, itu potensi bahaya,” tegas Gunadi.
Penutupan ini bukan sekadar proyek perbaikan. Ini soal nyawa, keselamatan, dan ketertiban lalu lintas. Masyarakat diharapkan tidak mengeluh soal waktu tempuh atau biaya tambahan, karena proyek ini adalah investasi jangka panjang untuk menghindari tragedi di masa depan.
Pantau terus Tagarjatim.id untuk informasi terbaru seputar proyek ini dan kondisi jalur alternatif di lapangan. (*)




















