Kota Batu, tagarjatim.id – Di tengah pesona alam dan geliat pariwisata yang identik dengan Kota Batu, masih terselip tantangan serius yang perlu segera diurai ketenagakerjaan.

Hal itu disampaikan langsung oleh Wali Kota Batu, Nurochman, saat mengulas arah pembangunan sumber daya manusia dalam forum bersama dunia pendidikan, industri, dan pelaku usaha. Ia menyoroti bahwa dari total 174.706 penduduk usia kerja di Kota Batu, masih ada 4.667 orang yang belum terserap dunia kerja.

“Kondisi ini tentu menjadi perhatian kita bersama. Kolaborasi antara pemerintah, dunia pendidikan, industri, dan UMKM sangat dibutuhkan untuk mencari solusi yang konkret,” ujarnya, Kamis (17/7//2025).

Menurutnya, struktur ekonomi Kota Batu masih didominasi oleh sektor informal seperti UMKM dan pertanian. Hal ini menyebabkan sektor formal belum berkembang optimal, sehingga pembangunan SDM berbasis vokasi menjadi kunci untuk membuka lebih banyak peluang kerja yang relevan dengan kebutuhan masa kini.

Ia pun menyinggung rendahnya partisipasi kerja perempuan, yang kini menjadi salah satu fokus penguatan vokasi. Untuk menjawab berbagai tantangan itu, Pemkot telah membentuk Tim Koordinasi Daerah Vokasi (TKDV), sebagai ruang strategis untuk memperkuat konektivitas antara dunia kerja dan dunia pendidikan.

“Melalui TKDV, kami ingin memastikan bahwa lulusan pendidikan vokasi tidak hanya memiliki ijazah, tetapi juga keterampilan yang benar-benar dibutuhkan oleh industri dan lapangan kerja saat ini,” tambahnya.

Wali Kota juga mengapresiasi pertumbuhan sektor pertanian Kota Batu yang menunjukkan tren positif di awal tahun 2025. Di sisi lain, sektor pariwisata dinilai masih memerlukan pemulihan dan penyesuaian, terutama pasca pandemi dan perubahan tren wisata global.

Namun, di balik tantangan itu, Batu menyimpan banyak potensi yang masih bisa terus digali terutama melalui inovasi dan sinergi.

“Kami ingin menjadikan Batu sebagai pusat pertanian dan pariwisata berbasis teknologi di Jawa Timur. Politeknik misalnya, sudah memberi rekomendasi teknologi pengolahan hasil pertanian yang bisa langsung kita terapkan,” ujarnya.

Pemerintah Kota juga berencana memperkuat industri kreatif dan UMKM lokal, termasuk melalui pelatihan-pelatihan berbasis kompetensi yang lebih adaptif dan responsif. Produk-produk hasil karya SMK di Batu pun mendapat apresiasi, bahkan kini rutin disajikan di Rumah Dinas Wali Kota sebagai bentuk dukungan nyata.

Di akhir pernyataannya, Wali Kota menekankan pentingnya membangun ruang dialog yang inklusif dengan berbagai pihak.

“Kami ingin membuka ruang selebar-lebarnya untuk masyarakat berpartisipasi dalam kebijakan publik. Pemerintah harus hadir secara transparan, responsif, dan mampu menjawab kebutuhan nyata warga. Karena itu, pelatihan vokasi ke depan tidak boleh hanya formalitas, tapi harus benar-benar mengubah hidup masyarakat,” pungkasnya.

Sebagai langkah lanjutan, Pemkot Batu akan memprioritaskan pendirian Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) dan mendorong peningkatan alokasi anggaran untuk program vokasi yang berorientasi pada kebutuhan industri serta berbasis potensi lokal.(*)

isra mi'raj nabi muhammad saw 1447H