Malang, tagarjatim.id – Suhu udara di wilayah Malang Raya diprediksi turun hingga 14 derajat Celsius pada Agustus 2025. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat, terutama para peternak, untuk mewaspadai dampak fenomena mbediding atau suhu dingin ekstrem yang biasa terjadi pada musim kemarau.
Prakirawan BMKG Stasiun Klimatologi (Staklim) Jawa Timur, Linda Firotul, menerangkan fenomena suhu dingin ekstrem sering terjadi ketika memasuki musim kemarau. Ia menyebut kondisi ini normal yang terjadi pada bulan Juli sampai September.
“Suhu dingin ini diakibatkan karena kita berada di musim kemarau, yang ditandai dengan adanya dominasi angin timuran yang bersifat kering dan dingin,” kata Linda, pada Selasa (15/7/2025).
Linda menjelaskan, selain faktor angin, cuaca cerah juga memicu pelepasan panas lebih cepat dari permukaan bumi pada malam hari, sehingga suhu terasa lebih dingin terutama menjelang dini hari.
“Beberapa saat ini juga masih terjadi hujan di beberapa wilayah yang turut menambah rasa dingin. Karena membawa massa udara dingin dari awan ke permukaan, dan menghalangi pemanasan sinar matahari,” tambahnya.
BMKG mencatat suhu dingin saat ini belum tergolong ekstrem. Namun, puncak penurunan suhu diperkirakan terjadi pada Agustus, dengan suhu minimum bisa mencapai 14 hingga 15 derajat Celsius.
“Ini masih belum ekstrem, jadi masih normal. Karena pernah terjadi juga lebih dingin dari ini. Kemudian biasanya di bulan Agustus nanti, itu akan lebih dingin lagi,” tegas Linda.
Meski tergolong wajar, BMKG mengingatkan sektor peternakan untuk tetap siaga. Unggas disebut sebagai jenis ternak yang paling rentan terhadap perubahan suhu ekstrem.
“Imbauan BMKG, sektor peternakan bisa mewaspadai dampak karena berpotensi menyebabkan kematian, khususnya pada peternakan unggas,” ujarnya.
Selain itu, embun es yang mungkin muncul di daerah dataran tinggi juga patut diwaspadai oleh para petani. Sebab, embun es sendiri bisa merusak tanaman, menyebabkan layu, bahkan kematian pada tanaman.
BMKG juga mengimbau masyarakat agar menjaga kondisi tubuh dengan mengenakan pakaian hangat, cukup minum air putih, serta mengonsumsi vitamin demi menjaga daya tahan tubuh selama musim dingin.
Fenomena mbediding tidak terjadi merata di seluruh wilayah Indonesia. Linda menjelaskan, karakteristik geografis dan topografi daerah turut memengaruhi.
Ia menghimbau masyarakat untuk tidak mudah percaya terhadap informasi yang belum terverifikasi terkait cuaca ekstrem, dan selalu mengacu pada informasi resmi dari kanal BMKG.
“Jawa Timur dengan pola hujan monsunal termasuk daerah yang cukup sering mengalami penurunan suhu ekstrem,” pungkasnya.(*)




















