Kabupaten Malang, tagarjatim.id – Suasana hangat yang tumbuh di antara tawa pengunjung, denting gamelan, dan aroma rempah dari acara Wedhangan yang digelar di Cafe Sawah tepatnya di Pujon Kidul, Kabupaten Malang, pada Sabtu (21/02/2025) menjadi momen berarti bagi setiap pengunjung.
Wedhangan merupakan acara makan malam yang mengangkat tema “Malang Tempo Doeloe”. Acara ini adalah hasil karya kolaborasi antara Cafe Sawah dan kelompok ORION, mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang. Melalui makanan, suasana, dan nuansa yang dibangun, Wedhangan mengajak pengunjung untuk bernostalgia sejenak dengan masa lalu.
Sejak pertama kali datang, pengunjung langsung diajak masuk ke dalam cerita. Mereka dipakaikan selendang dan udeng, dan disambut dengan segelas asam jawa dingin. Tidak ada musik modern atau dekorasi glamor, hanya hamparan sawah yang luas, meja dan kursi kayu yang dihias sederhana, serta senyuman ramah dari panitia.
Acara ini menarik berbagai kalangan, mulai dari orang tua hingga kalangan muda. Tentu karena konsep acaranya yang unik dan jarang ditemui, menumbuhkan perasaan antusias dan semangat para pengunjung untuk mengikuti acara tersebut.
“Acara ini unik, aku belum pernah menemui atau datang langsung ke acara makan malam dengan konsep seperti ini,” ujar Soraya salah satu pengunjung yang datang dalam acara Wedhangan.
Selain konsepnya yang unik, acara Wedhangan dapat menjadi media yang bagus untuk memperkenalkan dan memberikan gambaran kepada generasi-generasi muda, sehingga mereka tahu sekaligus merasakan suasana Malang tempo dulu.
“Sebagai Gen Z, acara ini secara tidak langsung memperkenalkan dan memberi gambaran tentang malang tempo dulu,” imbuh Soraya.
Sebelum makan malam dimulai, pengunjung diajak berkeliling sawah naik caddy car, menyaksikan pertunjukan tari bapang dan pencak silat, dan turun langsung ikut meracik wedang mereka sendiri.
Tersedia pula tenant jajanan tradisional seperti cenil, kentang urap, srawut, hingga dawet yang semuanya dibungkus dalam nuansa pasar rakyat zaman dulu.
Ketika matahari mulai terbenam, lampu-lampu redup dan lilin-lilin dinyalakan satu per satu. Diiringi alunan musik karawitan dan cahaya temaram, meja makan pengunjung mulai dipenuhi dengan berbagai macam makanan.
Dimulai dari makanan pembuka berupa tahu petis, menjes, dan lumpia. Hidangan utama berupa nasi jagung, ayam bakar, tempe, sayur bobor, dadar jagung, dan urap-urap. Hingga dessert berupa angsle, buah-buahan, dan pudding. Minumannya? Tentu saja susu jahe dan teh manis.
Acara ini ditutup dengan letupan kembang api dan juga pemberian souvenir. Namun yang meninggalkan kesan yang paling dalam bukanlah pernak-pernik yang dibawa pulang, melainkan suasana yang tercipta malam itu. Akrab, nyaman, dan penuh rasa.
Bagi ORION, Wedhangan bukan hanya hasil akhir dari Praktikum Public Relations, melainkan bentuk kecil dari upaya mengenalkan kembali kearifan lokal melalui cara yang menyenangkan. Dan bagi siapapun yang datang, ini bukan hanya sekedar makan malam, tapi perjalanan singkat ke masa lalu. (*)




















