Kabupaten Malang, tagarjatim.id – Ketua Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umroh (KBIHU) Wali Songo, Muhammad Aminuddin, memberikan penjelasan Kabar hilangnya Sukardi saat menjalankan ibadah haji.
Sebagaimana diketahui jemaah asal Desa Dilem, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang itu tergabung dalam kloter 79.
Dijelaskan oleh Aminuddin, peristiwa hilangnya salah satu jamaahnya berawal saat yang bersangkutan berada di penginapan di waktu subuh. Saat itu Petugas menahan Sukardi agar tidak pergi ke Masjidil Haram, larangan terhadap Sukardi oleh petugas karena sebelumnya ia sempat minta pulang saat baru tiba di Mekkah.
“Sebelumnya sudah mau pulang pas baru tiba di Mekkah katanya mau ketemu Pak Komar, itu sudah bawa koper besar,” ujar Aminuddin ketika dikonfirmasi, Selasa (24/6/2025).
Karena kondisi ini, setelah umroh wajib Sukardi selalu ditemani oleh teman sekamarnya. Pada saat subuh, teman yang menemani Sukardi lengah. Akhirnya Sukardi yang ada di dalam kamar berhasil keluar dan meninggalkan penginapan.
Aminuddin menambahkan, jemaah berusia 67 tahun itu pergi dengan membawa tas kecil berisi identitas diri dengan memakai pakaian batik. Ia pergi tanpa membawa koper.
“Setelah itu kami lakukan pencarian awalnya intern dulu melibatkan kloter, sektor sampai ke linjam. Kemudian karena belum ketemu kami laporkan ke pihak polisi,” jelasnya.
Pencarian terhadap Sukardi yang dilakukan petugas hingga prosesi Ibadah Haji selesai, bahkan hingga saat ini Sukardi belum juga ditemukan. Namun ada salah seorang jemaah haji asal Singosari yang sempat bertemu dengan Sukardi seminggu sebelumnya.
Ada yang sempat mengetahui keberadaan Sukardi, bahkan sempat ditanyakan identitas Sukardi maupun asal kloter oleh Jemaah asal Singosari. Namun, Jamaah asal Singosari, Kabupaten Malang tersebut tidak bisa menahan Sukardi karena seorang diri.
“Lokasinya terakhir di area Masjidil Haram. Tapi karena yang menemukan ini 1 atau 2 orang sehingga ia tidak bisa menahan Sukardi,” kata Aminuddin.
Lebih lanjut Aminuddin menjelaskan, secara fisik kondisi Sukardi masih sehat dan masih bisa berjalan. Artinya Sukardi dinyatakan istithaah dan memenuhi syarat untuk berangkat haji. Namun ada dugaan bahwa Sukardi menderita demensia saat tiba di Mekkah.
“Kalau diloloskan berarti dinyatakan sehat atau istithaah. Bisa juga itu karena faktor psikologi di sana karena melihat orang banyak dan tidak ada keluarga yang menemani,” jelas Aminuddin.
Atas kejadian ini, KBIHU Wali Songo telah berkomunikasi dengan keluarga Sukardi. Sebagaimana diketahui, total jemaah asal KBIHU Wali Songo berjumlah 190 orang dengan dua pembimbing.
“Semoga Bapak Sukardi segera bisa ditemukan, dan kembali berkumpul dengan Jamaah yang lain, serta bisa pulang ke tanah air dengan selamat,” tutup Aminuddin. (*)




















