Kota Surabaya, Tagarjatim.id — Setiap pagi, langkah pelan Diyem Wiryo Rejo menyusuri gang-gang sempit di Kota Mojokerto. Di pundaknya, botol-botol jamu bergoyang seirama langkah, menemani perjalanan yang telah ia lakoni sejak usia sebelas tahun. Tapi pagi ini berbeda. Tidak ada botol, tidak ada gerobak. Yang ada hanya sehelai mukena putih dan tas koper besar. Sebab hari ini, Diyem tak lagi menjajakan jamu gendong, ia akan menjadi tamu Allah di Tanah Suci.

“Rasanya seperti mimpi. Dulu saya hanya bisa dengar cerita haji dari tetangga. Sekarang saya sendiri yang akan ke sana,” ujar Diyem sambil menahan haru, saat ditemui di Asrama Haji Embarkasi Surabaya.

Diyem, 65 tahun, tergabung dalam kloter 47 yang diberangkatkan ke Makkah pada Kamis (15/5/2025). Di usianya yang tak lagi muda, ia membuktikan bahwa mimpi bisa dijemput, asal disertai sabar, doa, dan ketekunan.

Baca juga: 40 Tahun Berjualan, Nenek Penjual Kue Keliling Naik Haji

Setiap gelas jamu yang ia racik, setiap langkah yang ia tempuh dari satu rumah ke rumah lainnya, adalah bagian dari perjuangan panjang mengumpulkan rupiah demi rupiah untuk berhaji.

“Kalau dapat uang, saya simpan di kaleng bekas. Kalau sudah sejuta, baru saya setor ke bank,” tuturnya.

Proses itu memakan waktu lebih dari sepuluh tahun. Dari penghasilan harian yang tak menentu, kadang Rp100 ribu, kadang tak cukup untuk modal. Diyem akhirnya berhasil mengumpulkan Rp25 juta. “Saya daftar haji tahun 2012 bareng suami. Beliau juga menabung dari jualan nasi goreng,” ujarnya.

Motivasi untuk mendaftar haji muncul dari ucapan seorang teman. “Katanya, kalau punya tabungan, daftarkan saja. Siapa tahu Allah bukakan jalan. Dari situ saya mulai serius,” kenangnya.

Baca juga: Kisah Jemaah Haji Tertua di Kabupaten Malang Menabung Selama 20 Tahun untuk Berangkat Haji

Perjalanan hidup Diyem dimulai dari Solo. Usia sebelas tahun, tubuh kecilnya sudah menahan beban botol-botol jamu di punggung. “Anak lain main kelereng, saya keliling bawa jamu. Berat sekali rasanya. Tapi saya harus bantu orang tua,” ucapnya pelan.

Tahun demi tahun berlalu, kehidupan tak pernah benar-benar mudah. Tapi semangat Diyem tak padam. Ia pindah ke Mojokerto, menikah, membesarkan tiga anak, dan tetap setia dengan jamu gendongnya.

Meski tubuh mulai renta, ia enggan berhenti. “Kalau tidak jualan, badan malah pegal. Anak-anak sudah melarang, tapi saya masih kuat. Selama bisa jalan, saya mau tetap kerja,” katanya sambil tersenyum.

Kini, langkah kaki Diyem tak lagi menuju perkampungan. Ia menuju Ka’bah, tempat yang selama ini hanya ada di doanya. Setelah 55 tahun menjajakan jamu, akhirnya ia diberi kesempatan menjadi dhuyufurrahman, tamu Allah.

Baca juga: 10 Tahun Menabung dari Hasil Berjualan Es Campur, Mbah Said dan Istri Akhirnya Naik Haji

“Semoga Allah lancarkan ibadah saya dan suami. Semoga diberi kekuatan, sehat, dan kembali ke tanah air dengan haji mabrur,” ucapnya penuh doa.

Dari pundak jamu yang menua, Bu Diyem mengajarkan satu hal, tidak ada impian yang terlalu tinggi bagi mereka yang mau berjuang dengan hati yang tulus. (*)

isra mi'raj nabi muhammad saw 1447H