Kota Malang, tagarjatim.id – Kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kota Malang menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Sejak Januari hingga awal Mei 2025, Dinas Kesehatan mencatat ada 389 kasus DBD. Tiga di antaranya berujung kematian.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Malang, Husnul Muarif, menyebutkan bahwa kasus DBD memang terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Menurutnya, penyakit ini tidak bisa dianggap remeh karena berpotensi menimbulkan wabah jika tidak segera dikendalikan.

“DBD adalah penyakit menular yang bisa menyebabkan kejadian luar biasa. Oleh karena itu, pengendalian sejak dini sangat penting,” ujar Husnul, pada Rabu (14/5/2025).

Husnul merinci, pada tahun 2023 tercatat 462 kasus DBD dengan empat kematian. Angka itu naik tajam pada 2024 menjadi 777 kasus, juga dengan empat kematian. Tahun ini, hingga awal Mei, sudah ada 389 kasus dan tiga warga dilaporkan meninggal.

Meski begitu, Dinkes masih menyelidiki penyebab pasti kematian ketiga pasien. Ada kemungkinan mereka memiliki penyakit penyerta (komorbid) yang memperburuk kondisi.

“Penyebab kematian masih kami dalami, terutama terkait adanya komorbid,” jelas Husnul.

Untuk mencegah penyebaran DBD, Dinkes mengimbau masyarakat aktif melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) melalui gerakan 3M Plus. Yakni dengan menguras tempat penampungan air, menutup rapat wadah air, dan mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk.

Selain itu, masyarakat juga disarankan menggunakan lotion anti nyamuk, memelihara ikan pemakan jentik, serta mengenali gejala DBD sedini mungkin.

Dinas Kesehatan juga mengaktifkan kembali kelompok kerja DBD di tiap wilayah dan menggencarkan program ‘1 Rumah 1 Juru Pemantau Jentik’ (G1RIJ).

“Mulai 7 hingga 14 Mei, kader G1RIJ akan memantau sedikitnya 10 rumah di sekitarnya untuk memastikan Angka Bebas Jentik (ABJ) minimal mencapai 95 persen,” tutup Husnul.(*)

isra mi'raj nabi muhammad saw 1447H