Kabupaten Blitar, tagarjatim.id Sebanyak 66 lansia dan anak anak warga Desa Sidorejo, Kecamatan Selorejo Kabupaten Blitar, keracunan kolak kacang hijau. Semua korban dilarikan ke sejumlah fasilitas kesehatan setelah mengalami mual, muntah, lemas dan diare berkepanjangan pasca mengkonsumsi kolak kacang hijau, yang disajikan saat kegiatan rutin Posyandu lansia pada Sabtu lalu (10/5/2025).

Para korban mulai merasakan gejala beberapa jam kemudian, hingga akhirnya dilarikan ke sejumlah puskesmas, klinik dan rumah sakit. Hingga Selasa (13/5/2025) sebanyak 27 pasien bahkan masih menjalani rawat inap, dan sebagian masih mengalami diare.

Sejumlah pasien yang ditemui diruang perawatan puskesmas mengaku kolak kacang hijau yang mereka konsumsi terasa masam dan pahit. Rasa kolak yang biasanya manis sebagai menu tambahan gizi lansia ini, justru dirasakan berbeda dari biasanya. Seluruh lansia beserta petugas posyandu dan sejumlah anggota keluarganya, tak luput dari gejala keracunan ini.

“Saya minum kolak kacang hijau dalam plastik yang dibagikan usai posyandu lansia, rasanya kecut dan pahit, biasanya tidak seperti ini. Sorenya saya mual, muntah dan diare, sampe sekarang lemes,” ungkap Basuki Harianto, 57, pasien keracunan kepada tagarjatim.id di ruang perawatan Puskesmas Boro.

Sementara Kepala Dinas Kesehatan dr. Christine Indrawati dikonfirmasi saat mengecek pasien mengatakan, jumlah pasien yang terdata bertambah, dari awalnya 57 menjadi 66 pasien yang bukan hanya lansia tetapi juga anak anak. Hal ini karena kolak kacang hijau yang dibagikan dibawa pulang, dan dikonsumsi anggota keluarga di rumah, sehingga jumlahnya bertambah.

“Jadi awalnya kan kegiatan posyandu lansia, dibagikan konsumsi kacang hijau dibawa pulang. Jadi yang makan lansia, anak dan cucunya, itulah kenapa jumlahnya bertambah,” terang Kadinkes Kabupaten Blitar.

Christine menambahkan, atas keracunan ini pihaknya telah mengambil sampel sisa makanan yang dikonsumsi untuk diperiksakan ke laboratorium. Jadi nantinya akan diketahui penyebab dugaan keracunan ini secara pasti. Sampel dikirim ke dua laboratorium berbeda untuk saling konfirmasi akurasi hasilnya.

“Sudah kita ambil sampelnya sudah kita kirim lab, kita periksa di dua tempat untuk saling konfirmasi, satu kita kirim labkesda Kabupaten Blitar dan satu ke Surabaya,” jelas Christine.

Pantauan dilapangan menunjukkan ruang perawatan di Puskesmas Boro, Kecamatan Selorejo penuh dengan pasien keracunan. Mereka kondisinya rata rata mulai membaik, meski masih tampak lemas. Kasus keracunan makanan ini, merupakan yang keduakalinya terjadi di wilayah Kabupaten Blitar dalam sepekan terakhir. Sebelumnya belasan warga Wonotirto, juga mengalami keracunan makanan usai hajatan yasinan di rumah warga. (*)

isra mi'raj nabi muhammad saw 1447H