Jember, tagarjatim.id – Mimpi besar untuk menjadi dokter membawa energi tersendiri bagi Imroatus Soleha. Kendati baru saja mengalami kecelakaan yang membuat kaki kanannya patah, ia tetap bersemangat mengikuti Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) di kampus Universitas Jember (Unej).

Mengabaikan saran dokter agar tidak banyak beraktivitas berat, Imroatus bersemangat menggunakan kursi roda, menyusuri kampus Unej untuk mengikuti ujian.

Gadis asal Desa Curah Kalong, Kecamatan Bangsalsari, Jember ini merupakan salah satu dari total 13.403 lulusan SLTA yang dalam beberapa hari terakhir, berjuang untuk bisa tembus kuliah di kampus favorit dengan mengikuti UTBK SNBT di kampus Unej.

Nahas, beberapa hari menjelang pelaksanaan ujian, ia mengalami kecelakaan lalu lintas. Tepatnya pada tanggal 21 Maret 2025. Kondisi itu membuatnya harus menggunakan kursi roda.

“Kejadiannya pagi hari, saya dibonceng kawan hendak berangkat sekolah. Sayangnya kawan yang pegang setir menabrak mobil di depan kami. Kemudian kami berdua dilarikan ke Puskesmas Klatakan Tanggul dan sempat dirawat selama sehari,” cerita Imroatus yang bersekolah di SMAN 1 Tanggul Jember ini.

Namun mimpi untuk bisa kuliah di Fakultas Kedokteran Unej membuatnya tetap melangkahkan kaki menuju ruang ujian.

Pada pelaksanaan UTBK SNBT hari keempat, Sabtu (26/4/2025) pada sesi pagi, Imroatus terlihat bersemangat menggunakan kursi roda menuju lokasi ujian di gedung Integrated Laboratory for Science Policy and Public Communication.

Tekad anak pasangan Sumadi dan Siti Maisaroh ini untuk kuliah sudah bulat, maka Imroatus memilih tetap mengikuti UTBK SNBT di kampus Tegalboto. Walau selama mengerjakan soal ujian harus menahan rasa sakit, penyebabnya kaki kanannya masih belum bisa digerakkan secara bebas.

Penanggung Jawab Lokasi dan pengawas akhirnya menempatkan Imroatus di meja pengawas setelah sebelumnya menyesuaikan perangkat komputer yang digunakan. Mengingat jika berada di kursi peserta, maka geraknya tidak bisa leluasa dengan kursi roda yang dipakai.

Beruntungnya, Imroatus memiliki circle atau lingkungan yang mendukungnya. Pagi itu ada tiga kawannya yang setia mendukung.

“Alhamdulillah ada kawan-kawan yang menemani saya, mereka menyempatkan diri mengantar ke Tegalboto, menunggui saya selama ujian berlangsung hingga menemani saya pulang ke rumah. Bahkan selama ini kami selalu belajar bersama menghadapi UTBK SNBT, jadi saya nggak merasa sendirian berjuang,” ungkap Imroatus Soleha.

Sejak lama, Unej telah mendeklarasikan diri sebagai kampus inklusi yang ramah difabel. Karena itu, persiapan juga sudah dilakukan untuk memberi aksesibilitas bagi peserta UTBK SNBT dari kalangan difabel.

Menurut Iim Fahmi Ilman, Wakil Ketua Tim Kerja Humas UNEJ, total ada 2 difabel yang kali ini mengikuti UTBK SNBT di Unej.

“Setelah menerima informasi dari panitia UTBK SNBT bahwa ada peserta difabel, kami di Humas UNEJ berusaha menghubungi mereka. Kami ingin tahu kebutuhan atau fasilitas apa yang diperlukan peserta difabel agar bisa melaksanakan ujian dengan nyaman,” tutur Iim.

“Untuk Imroatus Soleha, menghubungi kami melalui media sosial Instagram sehari sebelum ujian sehingga kami bisa menyesuaikan lokasi ujian untuknya,” pungkasnya. (*)

isra mi'raj nabi muhammad saw 1447H