Kota Surabaya, tagarjatim.id – Kenaikan harga kedelai pasca Lebaran 2025 berdampak signifikan terhadap perajin tempe di Surabaya. Salah satunya adalah Jarwo Susanto, perajin tempe asal Putat Jaya, yang terpaksa menurunkan volume produksi akibat tingginya biaya bahan baku. Ia mengaku harga kedelai terus merangkak naik secara bertahap sejak beberapa minggu terakhir.
“Biasanya saya beli kedelai di agen Patemon seharga Rp8.500 per kilogram. Sekarang sudah naik jadi Rp10.500. Naiknya pelan-pelan, mulai Rp9.000, lalu Rp9.500, sampai sekarang,” kata Jarwo, yang akrab disapa Bang Jarwo, saat ditemui Rabu (23/4/2025).
Tak hanya omong kosong, ia pun lantas menunjukkan karung-karung kedelai yang baru saja dibelinya dengan harga terbaru.
Kenaikan harga ini berdampak langsung pada jumlah produksi tempe harian yang bisa ia hasilkan. Jika sebelumnya mampu memproduksi sekitar 25 kilogram tempe per hari, kini jumlah itu hanya sekitar 20 kilogram. Penurunan produksi ini turut memengaruhi jumlah tempe yang bisa dijual ke pasaran.
“Sekarang paling cuma bisa bikin 300 sampai 400 tempe per hari. Dulu bisa sampai 500,” ujarnya. Meski demikian, Jarwo menolak untuk mengurangi ukuran tempe atau menaikkan harga jual, karena khawatir konsumen akan lari dan justru menambah kerugian.
Ia menjelaskan bahwa kenaikan harga kedelai sebagian besar disebabkan oleh fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, mengingat sebagian besar kedelai di Indonesia masih bergantung pada impor. “Kalau dolar naik, harga kedelai pasti ikut naik. Kita yang kecil-kecil ini yang susah,” keluhnya.
Jarwo juga mengingat kembali bagaimana para perajin tempe di Surabaya pernah melakukan aksi unjuk rasa menolak kenaikan harga kedelai beberapa waktu lalu. Namun, menurutnya, aksi tersebut tidak membawa perubahan berarti.
“Pemerintah hanya datang sosialisasi, tapi nggak ada tindakan nyata,” katanya.
Sebagai perajin yang sudah puluhan tahun bergelut di industri tempe, Jarwo berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret. Ia menyarankan adanya kerja sama dengan negara penghasil kedelai atau upaya menstabilkan harga melalui subsidi atau proteksi harga.
“Kalau terus-terusan begini, banyak perajin yang gulung tikar. Semoga pemerintah cepat tanggap, karena masyarakat kecil seperti kami yang paling merasakan dampaknya,” pungkasnya. (*)




















