Kota Surabaya, tagarjatim.id – Sampah plastik jenis Polyethylene Terephthalate (PET) menjadi persoalan serius yang mengancam keberlanjutan lingkungan di Indonesia.

Negara ini tercatat sebagai salah satu penyumbang terbesar sampah PET di dunia, dengan angka mencapai 3.200 ton dari total global. Ancaman ini diperparah oleh meningkatnya penggunaan plastik sebesar 5,2 persen setiap tahun.

Menjawab tantangan tersebut, Yuniar Farida, dosen Departemen Teknik Sistem dan Industri Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), mencetuskan inovasi berupa model reverse logistics atau logistik terbalik. Model ini dirancang berdasarkan prinsip ekonomi sirkular guna mendaur ulang sampah PET secara efisien dan berkelanjutan.

“Dalam jangka panjang, tingginya produksi sampah PET dapat memberikan kerugian dalam aspek lingkungan, kesehatan, dan ekonomi,” katanya melalui pernyataan tertulis, Jumat (18/4/2025).

Dalam pengembangannya, Yuniar terlebih dahulu menganalisis perilaku konsumen berdasarkan data demografis seperti tempat tinggal, tingkat pendidikan, dan pendapatan. Ia juga mengadopsi pendekatan Theory of Planned Behaviour (TPB), yang menyoroti sikap, norma subjektif, kontrol perilaku, norma moral, serta kesadaran akan konsekuensi dari perilaku konsumen terhadap daur ulang.

“Dari kedua analisis ini, kami menemukan beberapa perilaku yang menjadi dasar dalam merancang skenario model,” ungkap perempuan kelahiran 1979 ini.

Berdasarkan temuannya, Yuniar menyusun lima skenario strategis yang dapat diterapkan: penegakan hukum dengan sanksi tegas, penyediaan fasilitas pengumpulan sampah PET, edukasi masyarakat, pemberian insentif bagi partisipan aktif, serta kombinasi dari keempat strategi tersebut.

Melalui simulasi sistem dinamik, ia menemukan bahwa strategi gabungan serta penegakan hukum memberikan dampak paling signifikan. Kedua pendekatan ini disebut mampu meningkatkan efektivitas pengelolaan sampah hingga tiga kali lipat dibandingkan kondisi saat ini, asalkan tidak terhambat oleh keterbatasan anggaran.

“Penerapan kedua strategi ini memungkinkan Indonesia mencapai zero waste pada tahun 2050,” jelasnya.

Dengan hasil penelitian ini, Yuniar berharap rekomendasi strategisnya dapat dijadikan referensi oleh pemerintah dalam memperkuat praktik ekonomi sirkular nasional.

“Semoga hasil ini menjadi pijakan untuk mewujudkan masa depan yang lebih bersih dan berkelanjutan,” tutupnya. (*)

isra mi'raj nabi muhammad saw 1447H