Jember, tagarjatim.id – Asal dilakukan dengan tekun, hobi yang dijadikan bisnis bisa menghasilkan cuan yang menggiurkan. Hal itulah yang dilakukan oleh Muchammad Rizkiansyah Fakhreza, mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember.
Reza sapaan akrabnya kini tengah fokus membudidayakan hewan Leopard Gecko di sela-sela kesibuikannya kuliah. Ia mulai memelihara reptil yang disebut tokek hias itu sejak tahun 2022 lalu.
“Waktu itu selepas lulus mondok, saya di sela-sela kuliah ingin memelihara hewan. Lalu melihat di medsos, jadi penasaran dengan Leopard Gecko karena motif atau coraknya yang beragam dan indah,” ujar alumnus Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo ini.
Reza kemudian membeli sepasang gecko yang ia dapatkan dari media sosial. Tak sekedar membeli, ia juga belajar setahap demi setahap teknik budidaya hewan yang dijuluki reptil paling ramah sedunia ini.
Pengetahuan soal leopard gecko ia dapatkan dari media sosial serta diskusi di forum daring dengan sesama pecinta hewan ini. Bahkan Reza juga sempat mengikuti kursus budidaya leopard gecko dari seorang peternak senior yang ada di Yogyakarta.
“Kalau tidak salah waktu itu biayanya sekitar Rp 750 ribu. Dia itu sudah seperti guru besar dalam Leopard Gecko di Indonesia,” papar pemuda 21 tahun ini sembari tersenyum.
Selain bentuknya yang unik, corak motif yang menarik serta karakter yang ramah, memelihara leopard gecko cukup menyenangkan karena cara perawatannya yang mudah.
Dari sepasang, jumlah Gecko milik Reza kini berkembang mencapai sekitar 80 ekor. Selain dengan membeli atau menambah koleksi, penambahan Gecko itu juga berkat keberhasilan perkawinan atau budidaya yang ia lakukan.
Reza merawat puluhan gecko itu bersama saudara kembarnya yang bernama Muchammad Rizkiansyah Fakhriza atau Riza. “Kalau kembaran saya lebih fokus budidaya bearded dragon, reptil asal Australia,” imbuh Reza.
Total, Reza mengeluarkan modal hingga Rp 2 juta untuk budidaya leopard gecko yang ia lakukan di salah satu sudut rumahnya di Jalan KH Achmad Siddiq, Kelurahan Jember Kidul, Kecamatan Kaliwates. “Tapi ya tidak langsung Rp 2 juta, pengeluarannya di cicil. Karena biaya perawatannya kan relatif murah. Saya pakai kandang kotak plastik thinwall ukuran 750 ml, harganya sekitar Rp ribu,” ujar Reza.
Dari ruangan kecil seluas 3 x 4 meter yang ada di belakang rumahnya, Reza sudah puluhan kali berhasil mengawinkan Gecko.
Setelah setahun membudidayakan Leopard Gecko, Reza mulai meraup cuan. Dalam setiap bulannya, ia bisa meraup hasil penjualan sekitar Rp 2 juta hingga Rp 5 juta.
Sejauh ini, di Jember cukup jarang pembudidaya atau breeder leopard gecko. Namun, Reza lebih sering memasarkannya melalui media sosial. Ia menggunakan akun instagram dengan nama @UniqGecko.
Harga yang ditawarkan juga cukup bervariasi. Mulai dari Rp 150 ribu hingga Rp 2 juta. Bergantung usia dan terutama motif atau morph.
“Pada dasarnya, Gecko ini tidak ada patokan harga yang pasti. Terutama untuk pemula atau awam. Tetapi kalau kita yang sudah lama pelihara, bisa tahu harga yang pantas untuk gecko ini berapa. Terutama jika untuk morph yang langka, harganya bisa mahal,” ucap Reza.
Melalui media sosial, Reza sudah berhasil menjual gecko hasil budidayanya hingga Sumatera, Kalimantan, Sulawesi bahkan hingga Papua. Pengiriman hingga luar pulau relatif mudah karena karakter gecko sebagai reptil dengan proses pencernaan yang lambat sehingga cukup kuat berada di dalam kotak hingga berhari-hari.
“Kalau masa pengirimannya di bawah 12 hari, kita bisa kasih garansi jaminan hidup sampai ke tempat. Kemarin saya kirim ke Kepulauan Karimun, makan waktu 11 hari, alhamdulillah sukses. Sehingga dia pesan lagi ke saya,” pungkas Reza. (*)




















