Penulis : Dixs Fibrian
Blitar, tagarjatim.com – Ryssa Putri (24) warga Kelurahan Bendogerit, Kecamatan Sananwetan, Kota Blitar, Jawa Timur, sukses mengolah limbah kayu menjadi kerajinan jam tangan. Jam tangan yang dibuat
mahasiswi lulusan jurusan desain produk Institut Teknologi Surabaya (ITS) tersebut mempunyai nilai jual tinggi dan berhasil menembus pasar ekspor.
Ryssa Putri menceritakan, ide membuat jam tangan dari kayu tersebut berawal dari ilmu yang diperoleh saat duduk dibangku kuliah. Dari berbagai produk kreatif yang diajarkan, dia lebih suka membuat jam tangan dari kayu.
“Selain unik, jam tangan kayu juga jarang dimiliki masyarakat,” kata Ryssa kepada wartawan, Rabu (24/1/2024).

Menurut Ryssa dengan bekal keahliannya membuat jam tangan dari kayu, ia kemudian mencoba membuat beberapa jam tangan berbagai model. Selanjutnya dia mencoba untuk menawarkan ke media sosial.
Tanpa diduga, ternyata banyak masyarakat dari berbagai daerah yang memesan jam tangan kayu hasil karyanya. Dari situlah kemudian dia meyakinkan diri untuk menekuni bisnis jam tangan kayu.
“Saya suka membuat jam tangan dari kayu ini, juga punya ilmunya. Jadi, sekalian menekuninya,” ujarnya.
Dia menjelaskan untuk membuat jam tangan, ia menggunakan bahan kayu Maple yang biasanya digunakan untuk alat musik.
Membuat kerajinan jam tangan tidaklah mudah, dan butuh ketelitian. Awalnya, kayu dipotong ukuran kecil-kecil kemudian dihaluskan dengan mesin.
Kayu dibuat wadah jam tangan yang sesuai dengan konsep yang sudah dibuat sebelumnya.Jika sudah selesai dihaluskan, kemudian diberi angka dan jarum jam, lalu diberi tali untuk pengikat di tangan.
“Material dari kayu maple. Kami datangkan dari suplier yang memang dari bekas perajin alat musik. Jadi, kayu ini bekas, ambil dari suplier. Jenis kayu maple sangat keras, motifnya juga bagus, sehingga cocok menjadi jam tangan,” jelasnya.
Untuk menyiapkan jam tangan, awalnya kayu dipotong ukuran kecil-kecil kemudian dihaluskan dengan mesin. Kayu dibuat wadah jam tangan sesuai dengan konsep yang sudah dibuat sebelumnya.
Jika sudah selesai dihaluskan, kemudian diberi angka dan jarum jam. Lalu, diberi tali untuk pengikat di tangan.
Ryssa mengaku dalam satu bulan setidaknya bisa membuat 100 biji jam tangan, yang dijual ke sejumlah daerah di Indonesia seperti ke Kalimantan, Sulawesi, Sumatera dan sejumlah daerah lainnya, bahkan ke luar negeri seperti Filiphina.
“Saya menjualmya kisaran harga Rp250 ribu sampai Rp300 ribu per jam tangan,” pungkasnya. (*)




















