Kabupaten Sidoarjo, tagarjatim.id – Suasana riuh penuh semangat mewarnai Lapangan Desa Sedengan Mijen, Kecamatan Krian, Sidoarjo, Minggu (16/2/2025) pagi. Ribuan warga tumpah ruah untuk berebut gunungan atau tumpeng tempe setinggi 10 meter yang menjadi ikon dalam tradisi Ruwah Desa. Tak hanya tempe, gunungan lain berisi sayur, buah, ikan, hingga sandal juga menjadi incaran warga.
Tradisi ini rutin digelar setiap tahun menjelang bulan Ramadan sebagai bentuk rasa syukur warga atas berkah yang mereka terima. Selain itu, acara ini juga bertujuan melestarikan industri tempe di desa tersebut agar tetap bertahan di tengah perubahan zaman.
Kepala Desa Sedengan Mijen, Mohammad Hasanuddin, mengatakan bahwa tradisi ini sudah berlangsung sejak 2018 dan terus menjadi daya tarik masyarakat.
“Desa kami dikenal sebagai sentra perajin tempe, jadi kami ingin memperkenalkannya lebih luas. Kami terinspirasi dari tumpeng durian di Wonosalam, dan akhirnya membuat gunungan tempe raksasa ini sebagai ikon,” ujarnya di sela acara.
Gunungan tempe tahun ini dibuat setinggi 10 meter, sedikit lebih rendah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yang mencapai 12 meter. Hal ini dikarenakan dalam dua tahun terakhir, selama pandemi Covid-19, acara sempat dibatasi sehingga ukuran gunungan harus disesuaikan. Meski demikian, antusiasme warga tetap tinggi dalam memperebutkan tempe yang dipercaya membawa berkah.
Salah seorang warga, Sulis, mengaku tidak berhasil mendapatkan tempe, tetapi tetap merasa senang bisa ikut meramaikan acara.
“Maunya dapat sandal atau tempe, tapi tidak bisa. Tempenya dilempar-lempar, saya tidak dapat. Tapi tetap senang, meski harus rebutan,” ujarnya.
Untuk membuat gunungan tempe ini, para perajin menghabiskan lebih dari 700 kilogram kacang kedelai dan dikemas dalam bungkus plastik tempe ukuran 20×25 cm. Tempe-tempe yang sudah matang kemudian disusun dengan rangka besi hingga membentuk tumpeng raksasa. Pembuatan gunungan ini melibatkan banyak warga, termasuk para pemuda yang ikut membantu dalam proses penyusunan dan dekorasi.
Sebelum acara puncak, sejumlah gunungan yang dibuat masing-masing RT maupun RW diarak mengelilingi desa dengan iringan musik tradisional dan pertunjukan tari. Prosesi ini menjadi bagian dari rangkaian doa dan harapan agar usaha perajin tempe di Sedengan Mijen tetap berkembang dan tidak punah dimakan zaman.
Dengan semaraknya acara tahun ini, Pemerintah Desa Sedengan Mijen berharap tradisi Ruwah Desa dapat terus menjadi bagian dari budaya lokal serta menarik lebih banyak perhatian masyarakat luas. “Kami ingin desa ini semakin dikenal sebagai pusat tempe, sehingga produk lokal bisa terus berkembang,” tutup Hasanuddin. (*)




















